Hidupkan 'Ruh' Ramadhan Demi Meraih Cinta-Nya
HIDUPKAN ’RUH’ RAMADHAN DEMI MERAIH CINTA-NYA
Berakhirnya Ramadhan menyisakan rasa sedih dan
bahagia di relung hati setiap orang beriman. Melimpahnya kebaikan yang Allah SWT
sediakan di bulan Ramadhan, membuat kita berandai-andai dan berharap sekiranya satu
tahun itu semuanya Ramadhan, sebagaimana penegasan Rasulullah SAW,
لَوْ تَعْلَمْ اُمَتِيْ مَا فِيْ رَمَظَا نَ لَتَمَنَوْا اَ
نْ تَكُوْنَ ا لسَّنَةُ كُلُهَا رَمَظَا نَ
“Sekiranya umatku mengetahui tentang (keagungan) Ramadhan, pasti mereka mengharapkan agar setahun itu seluruhnya (menjadi) Ramadhan”.
Namun tentu saja tidaklah mungkin semua bulan
dalam setahun adalah Ramadhan, karena Ramadhan yang mulia pasti akan berakhir.
Maka yang harus kita sikapi adalah bagaimana agar kita dapat menggapai
kesuksesan Ramadhan yang hanya hadir sekali dalam setahun.
Barometer kesuksesan sebuah amal tidak hanya
dicapai saat proses pelaksanaan dari amalan tersebut, namun juga pasca amalan
itu ditunaikan. Seperti dalam ibadah sholat, barometer sukses sholat seseorang
tidak hanya ditentukan saat proses pelaksanaan sholat, tapi justru pasca sholat
itu ditunaikan, yakni ketika mampu merefleksikan nilai-nilai sholat dalam
kehidupan, kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun (Q.S. An-Nisa/4 : 103).
Dengan begitu akan terhindar dari perbuatan keji dan munkar (Q.S. Al-Ankabut/29
: 45).
Begitupun dengan barometer sukses Ramadhan,
tidak hanya saat pelaksanaan berbagai amaliyah Ramadhan yang dijalani dengan
penuh keimanan dan keikhlasan, namun justru pasca Ramadhan berakhir, yakni
ketika mampu menghidupkan ’Ruh Ramadhan’ agar senantiasa hadir dalam
kehidupan sehari-hari di bulan Syawal dan bulan-bulan lainnya. Dan bulan Syawal
sejatinya menjadi bulan pembuktian ketaqwaan kepada Allah SWT dengan meningkatkan
atau minimal mempertahankan berbagai bentuk amalan yang telah terbiasa
ditunaikan selama bulan Ramadhan.
Namun ketika yang terjadi justru degradasi (penurunan) baik kuantitas
maupun kualitas ibadah, dimana dapat dilihat dari fenomena kembali sepinya
masjid-masjid dari rutinitas sholat berjama’ah dan berbagai rutinitas lain yang
saat Ramadhan begitu semarak, sehingga terasa suasana
religius selama Ramadhan berangsur sirna. Maka, kondisi seperti ini bisa jadi menjadi
pertanda ketidaksuksesan Ramadhan.
Sungguh tidak
ada istilah istirahat dalam beribadah, kecuali jika ajal telah tiba. Oleh karena itu, janganlah kita mengenal dan
merasa dekat dengan Allah SWT hanya di bulan Ramadhan dengan semangat berpuasa,
semangat qiyamul-lail, semangat tadarus al-Qur’an, semangat sholat berjama’ah
masjid, semangat menghadiri kajian (taklim), semangat berbagi dengan sesama.
Namun sepeninggal Ramadhan, semuanya terhenti dan terasa berat untuk dilakukan.
Islam tidak menghendaki umatnya hanya mentaati
Allah SWT di saat tertentu, dan setelah itu dilepas. Seorang ulama salaf pernah
berpesan ”Jadikanlah Allah sebagai tujuan
dalam beramal, bukan Ramadhan”. Artinya janganlah sampai ketaatan kepada
Allah SWT hanya di bulan Ramadhan, sementara di bulan-bulan lainnya diabaikan. Dalam
hal ini Allah SWT telah memberikan rambu kepada kita melalui firman-Nya,
وَلَا
تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا
”Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi tercerai berai kembali...” (Q.S. An-Nahl / 16 : 92)
Ayat ini memberikan gambaran tentang suatu
perbuatan yang sia-sia dan merugi. Bagaimana tidak, jika seseorang yang telah
bersusah payah memintal helai demi helai benang menjadi sebuah kain yang bagus,
dan setelah itu diurai kembali. Inilah yang dilakukan seorang perempuan
dari penduduk Mekah yang bernama Saidah Al-Asadiyah yang aktifitasnya
mengumpulkan serat dan bulu, lalu dia mengikatnya, setelah terikat dengan kuat
ia menguraikannya kembali. Tentu ini merupakan perbuatan sia-sia dan merugi.
Sama halnya ketika kita telah terbiasa
menjalani berbagai amal ibadah di bulan Ramadhan, namun terhenti saat Ramadhan
pergi. Padahal menjadikan terputusnya amal adalah sebuah pelanggaran sebagaimana
firman Allah SWT,
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا
أَعْمَالَكُمْ
”Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu” (Q.S. Muhammad/47 : 33).
Berdasarkan ayat ini, bahwa menjadikan
terputusnya amal merupakan pelanggaran terhadap ketaatan kepada Allah SWT dan
Rasul-Nya. Sungguh merupakan pembatalan amal, ketika Ramadhan meninggalkan
kita, namun tidak termotivasi untuk meningkatkan atau minimal mempertahankan
rutinitas amal yang telah terbiasa dilakukan selama Ramadhan.
Allah SWT tidak menghendaki hamba-Nya
mengalami keterputusan amal. Karena di balik terputusnya amal menjadikan
terputusnya rahmat Allah SWT dan menjadi penyebab hilangnya penjagaan Allah SWT.
Maka betapa pentingnya menjalani berbagai amalan secara berkesinambungan (istiqomah).
Salah satu contoh amalan yang dapat dilakukan secara berkesinambungan pasca
berakhirnya Ramadhan adalah ibadah puasa. Dalam
sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshori, Rasulullah SAW
bersabda,
عَنْ أبِي أَيُّوْبَ اْلأَنْصَارِيِّ – رضي الله عنه –
أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه و سلّم- قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَ
أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَهْرِ
Dari
Abu Ayyub al-Anshari r.a. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, ''Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam
hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia telah berpuasa setahun penuh.'' (HR. Muslim)
Adanya hadits ini menunjukkan
bahwa spirit
puasa Ramadhan dapat terus dilakukan secara berkesinambungan. Setelah menunaikan kewajiban
puasa Ramadhan, dapat dilanjutkan dengan puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Selanjutnya dapat dilaksanakan
di setiap bulannya dengan menunaikan puasa sunah ayamul-bidh. Bahkan
dapat pula dilanjutkan
dengan menunaikan
puasa
sunah Senin dan
Kamis di setiap pekannya.
Begitupun ketika Ramadhan terbiasa qiyamul-lail
(shalat tarawih), maka di luar Ramadhan dapat dilanjutkan meskipun hanya dengan
dua rokaat shalat malam dan satu rakaat shalat witir. Atau ketika Ramadhan bertadarus
al-Qur’an sehari satu juz, di luar Ramadhan dapat dilanjutkan meskipun hanya satu
’ain dalam sehari.
Di balik amalan yang sedikit namun jika dilakukan
secara istiqomah, maka insya Allah akan ada keberkahan didalamnya. Dan Allah
SWT lebih mencintai amalan yang sedikit namun dilakukan dengan istiqomah,
sebagaimana dinyatakan dalam hadits Rasulullah SAW,
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا
وَاعْلَمُوْا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ ، وَأَنَّ
أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Dari
Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: "Beramallah sesuai dengan
sunnah, dan berlaku imbanglah, dan ketahuilah bahwa salah seorang tidak akan
masuk surga karena amalnya, sesungguhnya amal yang dicintai Allah adalah amal
yang terus menerus walaupun sedikit." (H.R. Bukhori dan
Muslim)
Sejatinya berbagai latihan dan gemblengan melalui madrasah Ramadhan dapat memantik tumbuhnya pribadi-pribadi muslim yang sholeh dan suci sesuai fitrahnya. Artinya kesucian dan kesholihan tersebut tidak hanya dicapai di bulan Ramadhan saja, tetapi dapat dipertahankan atau bahkan berusaha ditingkatkan di luar bulan Ramadhan, sehingga terjadi sebuah perubahan atau peningkatan kualitas kesholihan seorang mukmin melalui madrasah Ramadhan.
Sebaliknya, jika berakhirnya Ramadhan berakhir
pula segala rutinitas baiknya atau berbalik pada keadaan semula sebelum
Ramadhan, tentunya predikat taqwa dan ’idul fitri yang diharapkan pun akan jauh
panggang dari api, tidak mungkin dapat diraih.
Jika itu semua berakhir, selayaknya kita bermuhasabah, jangan-jangan
kita telah menjadikan Ramadhan sebagai tujuan dari ibadah kita. Padahal ulama
salaf pernah berpesan : ”Jadikanlah Allah
sebagai tujuan, bukan bulan Ramadhan”. Maksudnya, jangan sampai terjadi,
ketaatan kita kepada Allah SWT hanya di bulan Ramadhan seolah menjadikan
Ramadhan sebagai tujuan ibadah, namun Allah lah tujuan dari semua ibadah yang
dilakukan.
Islam tidak menghendaki seseorang mentaati
Allah SWT hanya di bulan tertentu, setelah itu terhenti. Maka di bulan Syawal
ini, marilah kita niatkan untuk terus menghidupkan ”ruh Ramadhan” dengan
beristiqomah dalam beramal. Mari kita jadikan diri kita sebagai orang yang taat
kepada Allah di setiap bulan, di manapun dan kapanpun berada sebagaimana pesan
Rasulullah SAW ”Bertaqwalah kamu sekalian di manapun kamu berada..”
(H.R. Tirmidzi, dari Abu Dzar r.a.)
Wallohu a’lam bish-showwab...
(Oleh : Yuyu Yuniawati, S.Ag, PAIF PNS KUA Padamara & Kalimanah)
Komentar
Posting Komentar