PUASA ATAU MELAPARKAN DIRI


PUASA ATAU MELAPARKAN DIRI


Puasa merupakan amalan ibadah istimewa yang pahalanya akan dinilai langsung oleh Allah Swt. Berbeda dengan amalan ibadah lain yang pahalanya akan dilipatgandakan 10 hingga 700 kali lipat, amalan puasa bisa tak terbatas pahalanya, sangat tergantung pada kualitasnya. Semakin tinggi kualitas puasanya akan semakin besar pula pahalanya di sisi Allah Swt. Sebaliknya puasa yang rendah kualitasnya, rendah (kecil) pula pahalanya di sisi Allah, bahkan bisa jadi tidak mendapatkan apapun dari puasanya. Oleh karena itu menjadi sebuah keniscayaan bagi seorang muslim untuk betul-betul menjaga kualitas ibadah puasa yang dijalaninya.

Berbicara tentang kualitas puasa, ada baiknya menengok terlebih dahulu tentang peristiwa di masa Rasulullah SAW yang dapat menjadi bahan muhasabah kita terkait dengan kualitas puasa ini.

Bahwa pada masa Nabi SAW, ada dua orang perempuan yang begitu kepayahan dalam menjalani ibadah puasa. Keduanya terlihat begitu lapar dan dahaga bahkan hampir pingsan. Akhirnya karena merasa tidak mampu melanjutkan puasanya, keduanya menghadap Rasulullah SAW dan minta izin untuk berbuka puasa. Lalu Nabi SAW pun menyuruh mereka muntah. Dan keduanya pun muntah. Namun apa yang dimuntahkan oleh keduanya ? Ternyata keduanya memuntahkan darah dan daging busuk. Menyaksikan peristiwa tersebut orang-orang merasa heran, lantas seketika itu Nabi SAW bersabda: ”Mereka berpuasa dari apa yang di haramkan Allah SWT yakni tidak makan dan tidak minum, tetapi mereka membatalkan (pahala) puasanya dengan yang diharamkan Allah SWT, mereka duduk-duduk sambil berghibah / menggunjingkan kejelekan saudaranya. Itulah daging busuk yang mereka makan.”

Kisah lain bahwa pada suatu hari ketika Rasulullah SAW melewati sebuah rumah, beliau mendengar seseorang sedang memaki-maki budaknya padahal ia sedang berpuasa. Rasulullah pun memerintahkan kepadanya untuk makan. Orang itu pun berkata ; ”Saya sedang berpuasa wahai Rasulullah“. Mendengar itu, Rasulullah bersabda: ”Bagaimana mungkin engkau berpuasa, padahal engkau telah memaki-maki budakmu. Sungguh puasa bukan hanya sekedar menahan dari makan dan minum, karena Allah SWT telah menjadikan puasa sebagai penghalang dari makan dan minum. Namun puasa juga menahan diri dari hal-hal tercela, yaitu perkataan dan perbuatan yang akan merusak puasa. Alangkah sedikitnya orang yang puasa, alangkah banyaknya yang melaparkan diri”.

Ucapan Rasulullah SAW bahwa “Alangkah sedikitnya orang yang puasa, alangkah banyak orang yang melaparkan diri” senada dengan hadist Rasulullah SAW : 

قَالَ النَبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إلاَّ اْلجُوْعُ وَاْلعَطَسُ  

(رواه النَّسَائِيُّ وَابْنُ مَاجَهُ مِنْ حَدِيْثٍ أَبِيْ هُرَيْرَةَ)

"Nabi saw bersabda : Banyak sekali orang-orang yang berpuasa namun dia tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga”.. (H.R. An-Nasa'i dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

 

Berdasarkan kisah dan hadits ini, dapat kita fahami bahwa dalam pandangan Rasulullah SAW, terkait dengan pelaksanaan syari’at puasa, ternyata lebih banyak diantara umatnya yang hanya melaparkan diri dibandingkan dengan yang puasa yang sesungguhnya. Artinya banyak diantara kita yang dalam berpuasa itu baru mampu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa saja, namun belum mampu menahan diri dari hal-hal yang membatalkan (merusak) pahala puasa. Ketika seseorang berpuasa, tapi lisannya berdusta, menggunjing, seperti pada kisah tadi, mengadu domba, bersumpah palsu, matanya memandang dengan penuh syahwat, maka dalam pandangan Rasul SAW, ini bukan lah puasa, tapi hanya melaparkan diri saja.

Lalu bagaimana puasa yang sesungguhnya itu, agar puasa tak hanya sekedar melaparkan diri saja ?.  Dijelaskan oleh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, bahwa orang yang berpuasa adalah orang yang semua anggota badanya ikut berpuasa dari perbuatan-perbuatan dosa. Lisannya berpuasa dari berkata dusta dan berkata keji, Matanya berpuasa dari melihat hal-hal yang berbau syahwat. Telinganya berpuasa dari mendengarkan hal yang berbau ghibah. Tangannya berpuasa dari berbuat dzalim. Perutnya berpuasa dari makanan dan minuman. Kemaluannya berpuasa dari bersetubuh. Inilah puasa yang sesungguhnya. Dan inilah puasa yang berkualitas. Ungkapan Ibnu Qoyyim ini bersumber dari hadits Rasul SAW : 

عَنْ أَنَسْ عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ خَمْسُ يُفْطِرْنَ الصَّائِمِ اَلْكَذِبُ وَاْلغِيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَاْليَمِيْنُ الْكاَذِبَةُ وَالنَّظَرُ بِشَهْوَةٍ

"Dari Anas, dari Rasulullah saw bahwasanya beliau bersabda: Lima perkara yang membatalkan (pahala) orang yang puasa, yaitu: berdusta, ghibah, adu domba, bersumpah palsu, dan memandang penuh syahwat". (H.R. Al-azdi dan Addailami dari Anas r.a.)

 

Inilah akhlak orang yang berpuasa yang dalam hadits lain, dijelaskan pula oleh Rasulullah saw,  

الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ

“Puasa adalah perisai, maka barang siapa sedang berpuasa janganlah berkata keji dan bertindak bodoh, jika seseorang mencela atau mengajaknya bertengkar hendaklah dia mengatakan: aku sedang berpuasa.” (Muttafaq ’alaih)

 

Maka betapa penting menjaga akhlak saat berpuasa demi meraih kualitas ibadah puasa yang dilakukan. Berdasarkan beberapa keterangan di atas, maka dapat disimpulkan, agar dapat mencapai puasa yang berkualitas, kita dapat melakukan 2-M, yakni :

(1) Mampu menahan diri dari pembatal puasa (makan, minum, bersetubuh dan hal-hal lain yang membatalkan puasa).

(2) Mampu menahan diri dari perusak pahala puasa, atau dengan kata lain mampu berakhlak dengan akhlaknya orang yang berpuasa.  

         Dengan melakukan 2-M inilah  kita akan dimasukan pada golongan orang yang berpuasa yang disinyalir Rasul SAW sangat sedikit dibandingkan dengan golongan orang yang melaparkan diri. Ketika menjalani 2-M ini secara maksimal, maka puasa yang dijalani akan berkualitas, dan amalan yang maksimal dan berkualitas inilah menjadi amalan yang dicintai Allah, sebagaimana hadits Rasul Saw, 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ الْعَبْدَإِذَا عَمِلَ عَمَلاً اَحَبَّ اللَّهُ تَعَالىَ أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي)

Dari Aisyah r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Seorang hamba apabila melakukan suatu amalan, Allah mencintai untuk mengerjakannya secara maksimal. (HR. Thabrani dan Baihaqi).

 

        Maka jangan sampai puasa yang kita jalani hanya sekedar ‘melaparkan diri’ saja, sungguh ini merupakan kesia-siaan dan kerugian besar bagi kita.  Karena Allah telah memperingatkan dalam salah satu ayatnya, 

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِيْنَ أَعْمَالاً اَلَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِيْ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا

“Katakanlah (wahai Muhammad): "Maukah Kami kabarkan kepada kamu akan orang-orang yang paling merugi amal-amal perbuatannya?.  (Yaitu) orang-orang yang telah sia-sia perbuatan mereka dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”.  (Q.S. Al-Kahfi/18 : 103 – 104)

 

Semoga Allah memberikan kemampuan untuk menjalani ibadah puasa dengan sebenar-benarnya secara maksimal dan berkualitas, tidak sekedar ‘melaparkan diri’ demi menggapai predikat taqwa sebuah predikat bergengsi di hadapan Allah SWT yang menjadi dambaan setiap orang beriman

Wallohua’lam Bishowab…

 

(Oleh : Yuyu Yuniawati, S.Ag,  Penyuluh Agama KUA Kecamatan Mrebet Purbalingga / Majelis Tabligh PDA Purbalingga,  02 Ramadhan 1442 H / 14 April 2021 M)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMAHAMI KEMERDEKAAN SEBAGAI RAHMAT ALLAH SWT

Hidupkan 'Ruh' Ramadhan Demi Meraih Cinta-Nya

Kiat Sukses Menjalani Ramadhan