RAJUT HARMONI KELUARGA DI MADRASAH RAMADHAN
RAJUT HARMONI KELUARGA DI MADRASAH RAMADHAN
Romadhon sebagai
bulan yang special, yang didalamnya banyak amal utama yang dapat
dilakukan bersama segenap anggota keluarga, dapat dijadikan sebagai momentum untuk membangun
keharmonisan keluarga, Dalam Islam, keharmonisan sebuah keluarga saat di dunia,
dapat menghantarkan kebersamaan sampai di kehidupan yang bahagia kelak di
akhirat, dengan memasuki syurga ‘Adn bersama-sama (reuni di syurga). Firman
Allah,
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا
وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالمَلاَئِكَةُ
يَدْخُلُوْنَ عَلَيْهِمْ مِّن كُلِّ بَابٍ سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ
فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ
(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama
dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak
cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua
pintu. (sambil
mengucapkan): “Salamun `alaikum bima shabartum”, Maka alangkah baiknya tempat
kesudahan itu.” (QS Ar-Ra’du [13] : 23
- 24)
Madrasah
Ramadhan telah membuka peluang dan kesempatan besar bagi setiap keluarga untuk
dapat merajut harmoni keluarga. Ramadhan menjadi momentum untuk
memperkuat nilai-nilai kekeluargaan, merintis
proses menuju keluarga sakinah, mewadah wa rahmah. Ramadhan juga menjadi
momentum yang tepat untuk saling mengakrabkan diri antar segenap anggota keluarga dengna adanya
kebersamaan dalam menjalankan berbagai aktifitas dan suasana
keberagamaan yang dilakukan bersama-sama.
Suasana
kebersamaan ini bagi sebagian keluarga hanya dapat dirasakan di bulan Ramadhan,
dimana segenap anggota keluarga dapat menikmati makan bersama segenap anggota
keluarga, baik saat berbuka puasa atau sahur, menjalani ibadah bersama seperti
sholat berjama’ah dan menghadiri kajian bersama, bahkan olah raga dan bisa jadi
masak bersama dimana kebersamaan seperti ini cukup sulit diwujudkan di bulan
lainnya terlebih bagi keluarga yang anggotanya disibukkan dengan pekerjaan
rutinnya.
Harmoni
keluarga dengan berkegiatan bersama ini sesungguhnya telah dicontohkan secara
langsung oleh baginda Rasulullah Saw dengan mengajak serta segenap anggota
keluarga bersama-sama menjemput lailatul qadar sebagaimana yang
tergambar dalam sebuah hadits,
عَنْ
عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: – كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله
عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ اَلْعَشْرُ -أَيْ: اَلْعَشْرُ اَلْأَخِيرُ مِنْ
رَمَضَانَ- شَدَّ مِئْزَرَهُ, وَأَحْيَا لَيْلَهُ, وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ –
مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Rasulullah Saw ketika memasuki sepuluh terakhir Ramadhan, beliau kencangkan ikat pinggang (bersungguh-sungguh dalam ibadah), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah.” (Muttafaqun ‘alaih, Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).
Berikut beberapa aktifitas bernilai ibadah yang dapat dilakukan bersama segenap anggota keluarga melalui madrasah Romadhon yang akan menghantarkan pada kebersamaan kelak di surga 'Adn yaitu :
§ Kebersamaan dalam keimanan saat menjalani ibadah puasa.
Firman Allah,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ
كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum
kamu agar kamu bertakwa”, (Al
Baqarah:183)
Hadits
Rasulullah saw,
مَـنْ
صَامَ ( قَامَ ) رَمَـضَانَ اِيْـمَـانًا وَاحْـتِسَابَا
غُـفِـرَ لَهُ مَاتَقَـدَمَ مِـنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa
berpuasa Romadhon dengan penuh keimanan dan mengharap ridho Allah,
akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Mutafaq ‘alaih)
Kebersamaan
ini pun berlaku bagi anak-anak dimana Rasulullah Saw telah memberikan teladan
untuk melatih anak-anak berpuasa sebagaimana tercermin dalam sabdanya,
“Dari Ar Rubayyi’ binti
Mu’awwidz, ia berkata, “Nabi saw pernah mengutus seseorang ke salah satu suku
Anshar di pagi hari Asyura.” Beliau bersabda, “Siapa yang di pagi hari dalam
keadaan tidak berpuasa, hendaklah ia berpuasa. Siapa yang di pagi harinya berpuasa,
hendaklah berpuasa”. Ar-Rubayyi’ mengatakan, “Kami berpuasa setelah itu. Lalu
anak-anak kami pun turut berpuasa. Kami sengaja membuatkan mereka mainan dari
bulu. Jika salah seorang dari mereka menangis, merengek-rengek minta makan,
kami memberi mainan padanya. Akhirnya pun mereka bisa ikut berpuasa hingga
waktu berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
§ Kebersamaan meraih keberkahan saat
makan sahur
Makan
sahur merupakan sunah puasa yang
dianjurkan oleh Rasulullah Saw, selain dapat dijadikan sebagai sarana
menumbuhkan kebersamaan keluaga dimana semua anggota keluarga duduk berhimpun
dalam satu meja untuk berdo’a dan menikmati hidangan sahur bersama, juga dapat
dijadikan momen meraih keberkahan puasa di siaang harinya dimana secara fisik
badan menjadi sehat dan segar karena makan sahur. Rasulullah saw bersabda,
السَّحُوْرُ
أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ
مَاءٍ فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ
“Sahur, makannya adalah berkah.
Maka, janganlah kalian tinggalkan, walaupun hanya dengan seteguk air.
Sesungguhnya, Allah dan Malaikat-Nya ber-shalawat kepada orang-orang yang
sahur.” (HR. Ahmad)
§ Kebersamaan meraih kebahagiaan saat berbuka puasa
Rasulullah Saw bersabda,
والذي نفسُ محمدٍ بيدهِ لَخَلوفِ فمِ الصائمِ أطيبُ عندَ اللهِ من
ريحِ المسكِ ,للصائمِ
فَرْحتانِ يفرَحْهُما إذا أَفطرَ فَرِحَ ، وإذا لقي ربَّه فَرِحَ بصومِهِ
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya.
Sungguh bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah itu lebih wangi daripada
misik. Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika ia
berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu Rabb-Nya” (HR. Bukhari no. 1904, Muslim no. 1151).
Hadits dari
Abu Hurairah r.a, Rasulullah Saw bersabda,
لا يزالُ النَّاسُ بخَيرٍ ما عجَّلوا الفِطرَ عجِّلوا الفطرَ
“Manusia
senantiasa dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka” (HR. Ibnu Majah).
§ Kebersamaan meraih maghfiroh (ampunan) Allah
Swt saat sholat berjama’ah
Allah berfirman,
وَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ وَآتُواْ الزَّكَاةَ وَارْكَعُواْ مَعَ
الرَّاكِعِين
“Dan
dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku”
(Al-Baqarah : 43).
Rasulullah Saw bersabda,
مَـنْ
قَامَ رَمَـضَانَ اِيْـمَـانًا وَاحْـتِسَابَا غُـفِـرَ لَهُ مَاتَقَـدَمَ مِـنْ
ذَنْبِهِ
“Barang siapa
menegakkan Romadhon (sholat tarowih) dengan penuh keimanan
dan mengharap ridho Allah, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR Mutafaq
‘alaih)
§ Kebersamaan saat bertadarus Al-Qur’an
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى
لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan,
bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi
manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara
yang hak dan yang batil)” QS. (Al Baqarah : 185)
§ Kebersamaan dalam menjaga akhlak saat berpuasa
الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَلاَ يَرْفُثْ
وَلاَ يَجْهَلْ ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى
صَائِمٌ
“Puasa adalah perisai, maka barang siapa sedang
berpuasa janganlah berkata keji dan bertindak bodoh, jika seseorang mencela
atau mengajaknya bertengkar hendaklah dia mengatakan: aku sedang berpuasa.” (Muttafaq ’alaih)
خَمْسٌ يُفْطِرَانِ
الصَائِمِ الْكَذِبُ وَالْغِيْبَةُ وَالنَمِيْمَةُ وَالْيَمِيْنُ الْكَاذِبَةُ
وَالنَظَرُ بِشَهْوَةٍ
“ Lima perkara yang membatalkan
orang yang berpuasa ; dusta, ghibah, adu domba, sumpah palsu dan melihat dengan
syahwat “.
§ Kebersamaan dalam memupuk kepedulian sosial terhadap
sesama
Rasulullah Sa bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas r.a.berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم
– أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ
جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ فِى كُلِّ
لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ – صلى
الله عليه وسلم – أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
“Nabi Saw adalah orang yang paling gemar bersedekah. Semangat beliau dalam bersedekah lebih membara lagi ketika bulan Ramadhan tatkala itu Jibril menemui beliau. Jibril menemui beliau setiap malamnya di bulan Ramadhan. Jibril mengajarkan Al-Qur’an kala itu. Dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang paling semangat dalam melakukan kebaikan bagai angin yang bertiup.”
(HR. Bukhari no. 3554 dan Muslim no. 2307)
Dalam hadits lain Rasulullah Saw
memotivasi umatnya untuk meraih keutamaan dari memberikan makanan berbuka (ifthor)
مَنْ
فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ
أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa,
maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi
pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”
Terlebih saat ini masih dalam situasi pandemic
covid-19, ini menjadi kesempatan membantu sesama dengan memberikan apa yang
kita miliki kepada mereka yang terdampak covid-19. Salah satunya dengan
memberikan makanan berbuka sebagaimana telah dicontohkan Rasulullah Saw
sebagaimana tercermin dalam hadits di atas yang menjelaskan tentang keutamaan
yang akan didapat dengan memberikan makanan berbuka puasa. Sejatinya inilah
inti dari amalan puasa dimana para aghniya (orang kaya) mampu merasakan lapar
dan dahaganya saudaranya yang fakir / miskin sehingga akan tergerak untuk
membebaskan saudaranya dari kelaparan.
Demikianlah, beberapa moment kebersamaan yang
dapat dinikmati segenap anggota keluarga di madrasah Ramadhan. Semoga setiap
keluarga dapat mewujudkan dan melestarikannya di luar Ramadhan. Hal ini menjadi salah satu ikhtiar dalam mewujudkan harmoni keluarga, sehingga harapan untuk terwujudnya keluarga sakinah, mawadah wa rohmah dapat terwujud.
Wallohua’lam Bishowab..
( Oleh : Yuyu Yuniawati, S.Ag, Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Mrebet / Majelis Tabligh PDA Purbalingga )
Mantap ,selalu menambah literasi bagi kami semua fkpai kua 2 mrebet
BalasHapus