Mutiara Romadhon


 


LAILATUL QODAR BONUS ROMADHON ORANG BERIMAN

        Romadhon adalah bulan yang sangat istimewa, ibarat tamu agung kehadirannya sangat dinanti kaum muslimin. Ibadah didalamnya dapat diibaratkan sebuah kompetisi lari marathon, dimana hanya pelari yang sampai pada garis finish lah yang dinyatakan sebagai pemenangnya. Demikian pula ibadah di bulan suci Romadhon ini, hanya mereka yang mampu bertahan melakukan berbagai bentuk amalan mulia sejak awal  hingga akhir Romadhon lah yang disebut sebagai pemenangnya. Dan para pemenang inilah yang akan mendapatkan medali taqwa dari Allah SWT.  

Untuk dapat bertahan hingga akhir Romadhon, tentu harus ada upaya untuk tetap menjaga konsistensi dalam beribadah. Nabi Muhammad SAW memuji konsistensi amal ibadah yang dilakukan umatnya melalui sabdanya,

“Sesungguhnya amalan yang dicintai Allah adalah yang dikerjakan secara konsisten meskipun sedikit.” (HR. Bukhari).

Sebagai motivasi untuk dapat menjaga konsistensi dalam beribadah, Allah hadirkan salah satu keistimewaan luar biasa yang ada di bulan Romadhon, yakni hadirnya satu malam yang teramat agung dan istimewa, malam yang penuh kemuliaan melebihi malam-malam lainnya yakni Lailatul Qodar (Q.S. Al-Qodar/97 : 1).

Diantara kemuliaan tersebut sampai Allah mensifatinya dengan malam yang penuh keberkahan (Q.S. Ad-Dukhon/44 : 3). Malam yang sangat ditunggu kehadirannya, bahkan diintai dan diburu oleh segenap kaum mukminin demi meraih pundi-pundi kebaikan yang telah Allah sediakan sebagai bekal terbaik menuju kampung akhirat.

Kebaikan yang Allah sediakan di malam ini sangatlah luar biasa, dimana ibadah yang dikerjakan di malam ini akan mendapatkan nilai kebaikan seribu bulan (Q.S. Al-Qodar/97 : 3) atau setara dengan ibadah yang dilakukan selama 83,4  tahun.

Jika kita bertemu dengan Lailatul Qodar ini sepuluh kali saja, berarti kita mendapatkan kebaikan 834 tahun. Ini berarti kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW yang ditakdirkan Allah memiliki umur yang lebih singkat dibandingkan dengan umur umat nabi-nabi sebelumnya akan mampu menandingi atau bahkan melebihi ibadahnya umat terdahulu yang Allah takdirkan memiliki umur yang panjang. Dan inilah salah satu keistimewaan yang khusus Allah berikan kepada kita umat Nabi Muhammad SAW.

 

Dibalik Kerahasiaan Lailatul Qodar

Hanya saja kehadiran Lailatul Qadar ini dirahasiakan oleh Allah. Tidak ada seorang pun mengetahui kapan malam yang mulia ini akan hadir. Yang ada hanyalah beberapa penjelasan dari para ulama bedasarkan hadits Rasulullah SAW mengenai tanda-tanda kehadirannya yang berbeda dari malam-malam biasanya. Seperti disebutkan dalam hadits dari Ibnu Abbas r.a. bahwa

“Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas, tidak begitu dingin, dan keesokan harinya matahari bersinar lemah nampak kemerah-merahan” (HR. Ibnu Khuzaimah, 3/231).

Bahkan tanda-tanda hadirnya Lailatul Qodar ini telah dibuktikan secara ilmiah. Kemajuan teknologi yang terus berkembang pada akhirnya dapat mengungkap bukti dan kebenaran Lailatul Qodar secara fakta dan ilmiah. Dr Abdul Basit Muhammad seorang ilmuwan al-Qur’an dari Mesir mengabarkan bahwa sekitar tahun 2012, situs-situs berita di internet sempat heboh mengenai adanya kebocoran rahasia yang disimpan oleh Badan Antariksa Amerika (NASA). Seorang ilmuwan NASA, Carner membeberkan pada Koran “Delegation” Mesir bahwa setiap harinya diketahui ada 10 ribu bintang bersinar dan 20 ribu meteor yang menghantam bumi.

Namun hal itu tidak terjadi di satu malam di bulan Romadhon, tidak dijumpai adanya bintang bersinar dan tidak dijumpai adanya meteor yang menghantam bumi, sehingga malam itu menjadi malam yang terasa begitu tenang.

Begitupun mengenai waktu hadirnya Lailatul Qodar menjadi rahasia Allah. Rasulullah SAW hanya memberikan isyarat melalui beberapa hadits diantaranya yang diriwayatkan dari Ibunda Siti ‘Aisyah r.a bahwa

“Carilah lailatul qadar di malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Romadhon” (HR. Bukhari 4/225 dan Muslim 1169).  

Kerahasiaan hadirnya Lailatul Qodar di malam-malam ganjil di sepuluh akhir bulan Romadhon ini semestinya mampu menumbuhkan ghiroh (semangat) dan jihad (kesungguhan) kita untuk ‘berburu’ Lailatul Qodar  dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah di penghujung Romadhon demi meraih nilai kebaikan seribu malam sebelum tamu agung Romadhon benar-benar pergi meninggalkan kita.

 

 Berburu Lailatul Qodar di Sepertiga Akhir Ramadhan

Di sepertiga akhir Romadhon ini, sejatinya kaum muslimin lebih mementingkan ‘berburu’ Lailatul Qodar,  dibandingkan ‘berburu’ berbagai kebutuhan ‘idul fitri dan hiruk pikuk memikirkan bonus berupa THR (Tunjangan Hari Raya). Memang tidaklah keliru jika kita mengharapkan THR karena memang kita membutuhkannya. Namun jangan sampai kita melupakan “Bonus THR” yang sesungguhnya telah Allah persiapkan secara khusus di bulan Romadhon yang mulia ini yaitu “Bonus Romadhon” berupa Lailatul Qadar, karena ini jauh lebih berharga bagi kita, sebuah kesempatan yang sangat luar biasa untuk menambah pundi-pundi tabungan akhirat.

Tentunya menjadi harapan kita adalah di saat kita mendapatkan bonus THR (Tunjangan Hari Raya) dari tempat kita bekerja sebagai bentuk penghargaan atas komitmen dan loyalitas dalam bekerja, kitapun mampu meraih “Bonus Romadhon” berupa Lailatul Qadar. Dan Allah akan memberikan bonus ini secara khusus hanya bagi hamba-Nya yang memiliki komitmen dan loyalitas dalam menjalankan berbagai amaliyah Romadhon dari awal sampai akhir Romadhon dengan penuh keimanan, pengharapan dan keikhlasan bersimpuh, bersujud, bermunajat dan memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Berbahagialah bagi yang selain memperoleh bonus THR dari tempat kita bekerja, juga mampu meraih “Bonus THR” (Lailatul-Qodar) dari Allah yang akan menjadi aset tabungan amal kita selama seribu bulan

 


Upaya Meraih Bonus Ramadhan Lailatul Qodar

Lalu apa yang dapat kita lakukan agar kita dapat meraih “Bonus” dari Allah berupa  Lailatul Qodar..?  Dalam hal ini, Rasulullah SAW telah memberikan teladan ketika memasuki sepuluh malam terakhir Romadhon sebagaimana hadits yang diriwayatkan ibunda Siti ‘Aisyah r.a. bahwa

“Rasulullah SAW apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Romadhon), beliau mengencanngkan kainnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya” (HR.Bukhari 4/233). 


Ketiga hal yang dilakukan oleh Rasulullah SAW di sepertiga akhir Romadhon itu merupakan bentuk kesungguhan beliau dalam beribadah, sebagaimana dikuatkan dalam hadits lain bahwa

“Rasulullah SAW lebih bersungguh-sungguh (beribadah) pada sepuluh hari terakhir (bulan Romadhon) melebihi kesungguhan beliau di waktu lainnya” (HR. Muslim 1174).


Kesungguhan beliau dibuktikan dengan melakukan i’tikaf di masjid, shalat malam, tadarrus Al-Qur’an, memperbanyak do’a, dzikir dan istighfar serta bermuhasabah (introspeksi diri) sebagai sarana untuk memperbaiki diri.

Ketika kecil kemungkinan kita untuk dapat beri’tikaf karena satu dan lain hal, maka hendaknya kita dapat mengatur waktu sebaik-baiknya. Kalaupun kita harus berbelanja untuk memenuhi berbagai kebutuhan ‘idul fitri, hendaknya dilakukan pada pagi hingga siang hari dan waktu sorenya dapat beristirahat agar pada malam hari tidak kelelahan, sehingga dapat bersungguh-sungguh beribadah dengan tenang dan khusyuk serta mempunyai kesempatan untuk ‘berburu’ Lailatul Qodar. In syaa Allah upaya tersebut dapat membantu kita menghindari degradasi (penurunan) kuantitas dan kualitas ibadah sehingga nantinya kita tampil sebagai pemenang yang hakiki, yang mampu meraih kebaikan seribu bulan dan layak mendapatkan medali taqwa dari Allah SWT. Aamiin ya Robbal’alamiin…

 

 

( Oleh : Yuyu Yuniawati, S.Ag. Penyuluh Agama Fungsional KUA Kecamatan Mrebet Purbalingga,  Naskah ini dimuat di Tabloid Aspirasi Edisi 266, Mei – Juni 2019 )




Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMAHAMI KEMERDEKAAN SEBAGAI RAHMAT ALLAH SWT

Hidupkan 'Ruh' Ramadhan Demi Meraih Cinta-Nya

Kiat Sukses Menjalani Ramadhan