PENTINGNYA ISTIQOMAH PASCA RAMADHAN
Semarak Ramadhan kini telah berakhir dan
tergantikan oleh kesemarakkan ’Idul fitri, dimana kehadiran keduanya merupakan
siklus yang mewarnai rutinitas umat Islam dalam menjalankan ketaatan kepada
Allah SWT. Ketika Ramadhan pergi dan datangnya ’idul fitri, ada rasa bahagia
sekaligus sedih memenuhi relung hati setiap orang yang beriman.
Berbahagia, karena telah menyelesaikan satu bentuk pendidikan sekaligus ujian yang Allah berikan berupa kewajiban menunaikan ibadah khusus selama Ramadhan, dengan harapan memperoleh ampunan dan limpahan pahala serta kebahagiaan yang tak terkira sebagaimana janji-Nya. Bersedih, karena harus berpisah dengan Ramadhan yang mulia, sementara tidak ada jaminan tahun depan akan kembali berjumpa dengan Ramadhan.
Melimpahnya kebaikan yang Allah sediakan di
bulan Ramadhan, membuat kita berandai-andai dan berharap satu tahun itu
semuanya Ramadhan, sebagaimana penegasan Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya,
لَوْ تَعْلَمْ اُمَتِيْ مَا فِيْ رَمَظَا نَ لَتَمَنَوْا اَ
نْ تَكُوْنَ ا لسَّنَةُ كُلُهَا رَمَظَا نَ
“Sekiranya
umatku mengetahui tentang (keagungan) Ramadhan, pasti mereka mengharapkan agar
setahun itu seluruhnya (menjadi) Ramadhan”.
Namun tentu saja tidaklah mungkin semua bulan
dalam setahun adalah Ramadhan, karena Ramadhan yang mulia pasti akan berakhir.
Maka yang harus kita sikapi adalah bagaimana agar kita dapat menggapai
kesuksesan di bulan Ramadhan yang hanya hadir sekali dalam setahun ini.
Barometer kesuksesan sebuah amal tidak hanya
dicapai saat proses pelaksanaan dari amalan tersebut, tapi justru pasca amalan
itu ditunaikan. Seperti halnya dalam ibadah sholat, barometer kesuksesan sholat
seseorang tidak hanya ditentukan saat proses pelaksanaan sholat, tapi justru
pasca sholat itu ditunaikan, yakni ketika kita mampu merefleksikan nilai-nilai
sholat dalam kehidupan dengan senantiasa mengingat Allah SWT kapanpun,
dimanapun dan dalam kondisi apapun (Q.S. An-Nisa/4 : 103), maka in sya Allah
akan terhindar dari perbuatan keji dan munkar (Q.S. Al-Ankabut/29 : 45).
Begitupun dengan barometer kesuksesan
Ramadhan, tidak hanya saat pelaksanaan berbagai amaliyah Ramadhan yang dijalani
dengan penuh keimanan dan keikhlasan, namun justru pasca Ramadhan berakhir,
yakni ketika kita mampu menghidupkan ’Ruh Ramadhan’ agar senantiasa
hadir dalam kehidupan kita sehari-hari di bulan Syawal dan bulan-bulan lainnya.
Dan di bulan Syawal inilah sejatinya kita buktikan ketaqwaan kita kepada Allah
SWT dengan meningkatkan atau minimal mempertahankan berbagai bentuk amalan yang
telah terbiasa ditunaikan selama Ramadhan. Terlebih bulan Syawal menjadi bulan peningkatan ibadah.
Namun ketika yang terjadi justru degradasi (penurunan) baik kuantitas
maupun kualitas ibadah, dimana dapat dilihat dari fenomena kembali sepinya
masjid-masjid dari rutinitas sholat berjama’ah dan berbagai rutinitas lain yang
saat Ramadhan begitu semarak, sehingga terasa suasana
religius selama Ramadhan berangsur sirna dari keseharian. Maka, tentu dalam kondisi
seperti ini menjadi pertanda ketidaksuksesan Ramadhan. Karena tidak ada istilah
istirahat dalam beribadah, kecuali jika ajal telah tiba.
Oleh karena itu, janganlah kita mengenal dan
merasa dekat dengan Allah SWT hanya saat Ramadhan hadir dengan semangat berpuasa,
semangat qiyamul-lail, semangat tadarus al-Qur’an, semangat sholat berjama’ah
masjid, semangat menghadiri kajian (taklim), semangat berbagi dengan sesama.
Namun sepeninggal Ramadhan, semuanya terhenti dan terasa berat untuk dilakukan.
Seorang ulama salaf pernah berpesan :
”Jadikanlah
Allah sebagai tujuan dalam beramal, bukan bulan Ramadhan”.
Maksud dari ungkapan ini adalah jangan sampai
terjadi dalam diri kita, dimana ketaatan kepada Allah SWT hanya di bulan
Ramadhan, sementara di bulan-bulan lainnya diabaikan. Karena sesungguhnya Robb
Ramadhan juga Robb nya Syawal dan Robb nya bulan-bulan yang lain.
Islam tidak menghendaki umatnya hanya mentaati
Allah SWT di saat tertentu, dan setelah itu dilepas. Dalam hal ini Allah SWT
telah memberikan rambu kepada kita melalui firman-Nya,
وَلَا
تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا
”Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi tercerai berai kembali...” (QS An-Nahl/16 : 92)
Ayat ini memberikan gambaran tentang suatu
perbuatan yang sia-sia dan merugi. Bagaimana tidak sia-sia dan merugi, jika
seseorang yang telah bersusah payah memintal helai demi helai benang menjadi
sebuah kain yang bagus, dan setelah itu diurai kembali. Inilah yang dilakukan seorang
perempuan dari penduduk Mekah yang bernama Saidah Al-Asadiyah yang aktifitasnya
mengumpulkan serat dan bulu, lalu dia mengikatnya, setelah terikat dengan kuat
ia menguraikannya kembali. Tentu ini merupakan perbuatan sia-sia dan merugi.
Sama halnya ketika kita telah terbiasa
menjalani berbagai bentuk amal ibadah di bulan Ramadhan, namun terhenti saat
Ramadhan pergi. Padahal menjadikan terputusnya amal adalah pelanggaran terhadap
ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya sebagaimana firman Allah,
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا
أَعْمَالَكُمْ
”Wahai orang-orang yang beriman, taatlah
kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan janganlah kamu merusakkan (pahala)
amal-amalmu” (Q.S. Muhammad/47 : 33).
Berdasarkan ayat ini, bahwa menjadikan
terputusnya amal merupakan pelanggaran terhadap ketaatan kepada Allah SWT dan
Rasul-Nya. Sungguh merupakan pembatalan amal, ketika Ramadhan meninggalkan
kita, namun tidak termotivasi untuk meningkatkan atau minimal mempertahankan
rutinitas amal yang telah terbiasa dilakukan selama Ramadhan.
Maka betapa pentingnya menjalani berbagai amalan secara berkesinambungan (istiqomah). Salah satu contoh amalan yang dapat dilakukan secara berkesinambungan pasca berakhirnya Ramadhan adalah ibadah puasa. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshori, Rasulullah SAW bersabda,
عَنْ أبِي أَيُّوْبَ اْلأَنْصَارِيِّ – رضي الله عنه –
أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه و سلّم- قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَ
أَْتبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَهْرِ
Dari
Abu Ayyub al-Anshari –radhiyallahu ‘anhu- bahwasanya Rasulullah –shallallahu
‘alahi wa sallam- bersabda, ''Barangsiapa berpuasa
di bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa
enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia telah berpuasa setahun penuh.'' (HR. Muslim)
Adanya hadits ini menunjukkan bahwa spirit puasa Ramadhan dapat terus
dilakukan secara berkesinambungan. Setelah menunaikan kewajiban
puasa Ramadhan, dapat dilanjutkan dengan puasa sunah enam hari di bulan Syawal. Selanjutnya dapat dilaksanakan
di setiap bulannya dengan menunaikan puasa sunah ayamul-bidh. Bahkan
dapat pula dilanjutkan
dengan menunaikan
puasa
sunah Senin dan
Kamis di setiap pekannya.
Begitupun ketika saat Ramadhan terbiasa
qiyamul-lail (shalat tarawih) sebelas atau dua puluh tiga rokaat, maka di luar
Ramadhan dapat dilanjutkan meskipun hanya dengan tiga rokaat shalat malam. Atau
ketika Ramadhan mampu tadarus al-Qur’an sehari satu juz, di luar Ramadhan dapat
dilanjutkan minimal satu ’ain atau satu lembar dalam sehari.
Allah SWT tidak menghendaki hamba-Nya
mengalami keterputusan amal. Karena di balik terputusnya amal menjadikan
terputusnya rahmat Allah SWT dan menjadi penyebab hilangnya penjagaan Allah SWT.
Sungguh dibalik amalan yang sedikit namun jika dilakukan secara istiqomah,
maka insya Allah akan ada keberkahan didalamnya. Dan Allah SWT lebih mencintai
amalan yang sedikit namun dilakukan dengan istiqomah, sebagaimana
dinyatakan dalam hadits Rasulullah SAW,
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا
وَاعْلَمُوْا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ ، وَأَنَّ
أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Dari
Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: "Beramallah sesuai dengan
sunnah, dan berlaku imbanglah, dan ketahuilah bahwa salah seorang tidak akan
masuk surga karena amalnya, sesungguhnya amal yang dicintai Allah adalah amal
yang terus menerus walaupun sedikit." (H.R. Bukhori dan
Muslim)
Sejatinya berbagai latihan dan gemblengan
melalui madrasah Ramadhan dapat memantik tumbuhnya pribadi-pribadi muslim yang
sholeh dan suci sesuai fitrahnya. Artinya kesucian dan kesholihan tersebut
tidak hanya dicapai di bulan Ramadhan saja, tetapi dapat dipertahankan atau
bahkan berusaha ditingkatkan di luar bulan Ramadhan, sehingga terjadi sebuah
perubahan atau peningkatan kualitas kesholihan seorang mukmin melalui madrasah
Ramadhan.
Jika sebelum Ramadhan, seorang mukmin malas beribadah, tidak tergerak membantu saudaranya yang membutuhkan uluran tangannya. Namun di saat bulan Ramadhan menjadi ringan beribadah dan tergerak membantu saudaranya. Maka pasca Ramadhan sejatinya seorang mukmin berusaha untuk tetap mempertahankan kebiasaan baiknya. Inilah orang yang dinyatakan berhasil dengan Ramadhan yang telah dijalaninya dan yang berhak mendapat predikat taqwa dan menggapai ’idul fitri.
Di awal bulan syawal ini, marilah kita niatkan
untuk selalu beristiqomah dalam beramal. Mari kita jadikan diri kita sebagai
orang yang taat kepada Allah di setiap bulan. Kita tidak pernah tahu apakah
umur kita masih akan sampai pada Ramadhan berikutnya, karena ini adalah bagian dari rahasia Allah.
Wallohu a’lam bish-showwab...
( Yuyu Yuniawati, S.Ag, Penyuluh Agama KUA Kecamatan Mrebet Purbalingga / Majelis Tabligh PD 'Aisyiyah Purbalingga )
Subhanallah,bagus sekali, mari kita sama bulan sawalnya, jangan sowal itu artinya penuru nan,
BalasHapus