Refleksi Isro' Mi'roj, Cegah Kemungkaran Dengan Sholat
Bulan Rajab menjadi kesempatan untuk bermuhasabah tentang pelaksanaan sholat yang sudah dijalani berpuluh-puluh tahun semenjak baligh atau bahkan sebelum masa baligh hadir. Jika kita merenung dan mengamati perilaku kita yang alhamdulillah diberikan hidayah untuk taat dalam menjalankan kewajiban sholat, namun mengapa sholat yang kita jalani seperti belum mampu menjadi benteng dalam diri kita dari berbagai perbuatan yang dilarang agama. Banyak diantara kaum muslimin yang taat menjalankan kewajiban sholat, namun perbuatan maksiyat, keji dan munkar tetap dilakukan, sehingga muncul istilah STMJ (Sholat Taat, Maksiyat Jalan). Tulisan ini akan mengupas tentang mengapa sholat yang dilakukan belum mampu mencegah perbuatan yang dilarang agama, dan bagaimana agar sholat yang dijalani mampu menjadi benteng pertahanan yang handal dari segala bentuk perbuatan maksiyat, kekejian dan kemungkaran.
Bulan Rajab merupakan salah satu dari empat bulan yang
Allah muliakan (arba’atun
hurum) sebagaimana Allah firmankan dalam surat At-Taubah [9] ayat 36,
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّهِ اثْنَا عَشَرَ
شَهْراً فِي كِتَابِ اللّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَات وَالأَرْضَ مِنْهَا
أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan
bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram..” (Q.S. At Taubah/9: 36)
Penjelasan arba’atu-hurum
(empat bulan yang dimuliakan) dalam ayat tersebut terdapat dalam hadist
dari Abu Bakrah rahimahullah dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda :
الزَّمَانُ
قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ
اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ
ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى
بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
“Zaman telah berputar sebagaimana keadaannya sejak
Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di
antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu
Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram, dan Rajab Mudhor yang terletak antara
Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)
Salah satu keutamaan
yang ada di bulan Rajab adalah adanya peristiwa monumental yang dialami baginda
Rasulullah Muhammad SAW yakni peristiwa isro mi’roj yang terjadi di saat
Rasulullah SAW sedang dalam kondisi bersedih pasca ditinggal wafat oleh istri
tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib sehingga dikenal dengan ‘Amul Huzn
(tahun penuh kesedihan). Saat inilah Allah SWT ‘mewisatakan’ beliau melalui
peristiwa Isra Mi’raj yang terjadi
pada periode akhir masa kenabian di Makkah atau sebelum Rasulullah SAW hijrah
ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, peristiwa Isra Mi’raj
terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620 - 621 M.
Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mi’raj terjadi pada malam tanggal
27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah pendapat yang populer.
Peristiwa isro’ mi’roj bagi umat Islam merupakan peristiwa
bersejarah karena melalui peristiwa isro’ mi’roj inilah Allah SWT
menyampaikan SUPEWALAT (SUrat PERintah WAjib shoLAT) secara langsung tanpa
perantaraan malaikat jibril sebagaimana perintah ibadah yang lainnya. Mengingat sholat merupakan manifestasi
hubungan antara sang Kholiq Allah SWT dengan hamba-Nya yang beriman (hablumminalloh),
maka di momentum peringatan isro’ mi’roj ini, menjadi sebuah keniscayaan bagi kita untuk bertafakkur,
merenung dan mengingat kembali tentang amalan sholat kita yang
telah dijalani bertahun-tahun.
Sholat Sebagai Tiang Agama
Ibadah
shalat yang menjadi rukun Islam kedua merupakan media ketundukan dan kepasrahan
total dalam Islam, sehingga shalat dalam Islam difungsikan sebagai tiang agama
sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
الصَّلاةُ عِمادُ الدِّينِ ، مَنْ أقَامَها فَقدْ
أقَامَ الدِّينَ ، وَمنْ هَدمَها فَقَد هَدَمَ الدِّينَ
“Shalat itu tiang agama. Barangsiapa yang
mendirikan shalat maka ia menegakkan agama. Sebaliknya barangsiapa yang
meninggalkannya ia telah merobohkan agama” (HR. Baihaqi).
Mengapa sholat berfungsi menjadi tiang agama ? Karena dalam sholat terdapat pelaksanaan empat rukun Islam yang lainnya yaitu :
1. Di dalam shalat ada syahadat sebagai penyaksian atas keesaan Allah SWT dan kerasulan Muhammad SAW;
2. Di dalam sholat ada ajaran zakat, karena ketika shalat diakhiri dengan ucapan salam sambil menengok ke kanan dan ke kiri, ini memiliki makna kepedulian sosial yang merupakan manifestasi dari syariat zakat;
3. Di dalam shalat ada nilai shaum (puasa), karena selama berlangsung aktifitas sholat tidak diperbolehkan makan, minum dan berkata-kata selain bacaan shalat;
4. Di dalam shalat juga ada pelaksanaan haji, karena salah satu yang menjadi syarat sahnya sholat adalah menghadap kiblat baitullah.
Dua Golongan Pelaku Sholat
Dalam al-Quran Allah SWT menjelaskan adanya dua
kualifikasi orang-orang yang melakukan shalat, yaitu :
(1).
Khosyi’uun adalah orang-orang
yang shalatnya khusyu’. Berdasarkan pada beberapa ayat al-Qur’an diantaranya
dalam surat al-Baqoroh ayat 45-46, surat al-Mukminun ayat 1-11, surat al-ankabut
ayat 45, dapat diambil benang merah terkait dengan indikasi khosyi’uun,
yaitu niatnya ikhlas hanya berharap
ridho-Nya, tata cara sholat yang dijalaninya benar sesuai tuntunan, sikap
hidupnya tegas, suka bekerja keras, benteng pertahanan dan penangkal makshiyatnya
handal, memiliki pengaruh bagi pencegahan perbuatan keji dan munkar, serta
dapat menempa pribadinya menjadi pribadi yang memiliki sikap disiplin, jujur dan nilai-nilai positif lain yang ada dalam sholat sehingga pelaku
sholat golongan khosyi’uun ini memiliki kesalehan individual dan
kesalehan sosial.
Allah berfirman dalam al Quran surat
al Ankabut: 45:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ
الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ
يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad), yaitu Al Kitab (al
Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan)
keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) itu lebih besar
(keutamaannya dari ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.”
Ayat ini memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW dan tentunya kita sebagai umatnya,
agar senantiasa berinteraksi dengan al Quran, dengan cara membaca, mempelajari, memahami,
menghayati, dan mengamalkan isi kandungannya. Allah SWT juga memerintahkan untuk mendirikan shalat secara
berkesinambungan dan khusyu’.
Shalat yang didirikan secara berkesinambungan dan khusyu’, sesuai dengan tuntunan
Allah dan Rasul-Nya, dapat dipastikan (sesuai janji Allah) akan mencegah
pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar, karena kemampuannya dalam menerjemahkan
nilai-nilai shalatnya. Seorang yang memahami bahwa substansi shalat itu adalah
mengingat Allah, maka hatinya akan tenang,
jiwanya bersih dan dirinya akan terpelihara dari melakukan
perbuatan keji dan munkar.
(2). Saahuun adalah orang-orang
yang lalai dalam shalatnya, senang memamerkan kebaikan (riya’),
mengharapkan pujian dan sanjungan saat melakukan kebaikan, tidak memiliki
kepedulian, sikap hidupnya pemalas, lebih suka menerima pemberian dari pada
memberi, egois dan tinggi hati. Inilah indikasi
dari saahuun. Bagi golongan ini yang penting mengerjakan sholat sebatas
menggugurkan kewajiban, tidak peduli jika keikhlasan shalatnya terkotori oleh
sikap riya’ dan haus pujian dalam
hatinya. Intinya sholat yang
dilakukannya itu tidak berimplikasi positif pada diri dan kehidupannya. Kewajiban sholat dijalankan, tapi maksiatnya pun tetap dilakukan (STMJ =
Sholat Taat, tapi Maksiat Jalan). Allah berfirman dalam surat
al Ma’un: 4-7,
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ
وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ
“Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu)
orang-orang yang lalai terhadap salatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan
(memberikan) bantuan dengan barang yang berguna.
Pada
kenyataannya, banyak orang
yang melakukan shalat, tapi tidak berhenti melakukan perbuatan keji dan
masih melakukan perbuatan munkar.
Buruknya akhlak dan perilaku yang tumbuh dalam diri seseorang
yang menjalankan sholat, tiada lain karena shalat yang dilakukannya itu
asal-asalan, lalai, tidak khusyu’, sehingga tidak berpengaruh positif dan
berperan aktif dalam penanggulangan kejahatan, sifat-sifat keburukan, kenistaan
dan kemungkaran. Terlebih
bagi orang yang lalai dan menjauh dari (meninggalkan) kewajiban sholat, tentu
akan semakin terbuka peluang untuk berbuat maksyiat, keji dan munkar.
Sebaliknya
kenyataan membuktikan, bahwa orang-orang yang menegakkan shalat dengan benar
dan khusyu’ menjadi orang yang paling minim melakukan perbuatan maksiyat. Bahkan dapat dipastikan menjadi
orang yang akan Allah hindarkan dari melakukan perbuatan keji dan munkar. Bagi
golongan ini Allah pun memberikan balasan
berupa kebahagiaan hidup, dunia dan
akhirat, sebagaimana firman allah SWT
dalam surat al Mu’minun, ayat 1 – 2 :
قَدْ أَفْلَحَ ٱلْمُؤْمِنُونَ - ٱلَّذِينَ هُمْ
فِى صَلَاتِهِمْ خَٰشِعُونَ
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang
beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya”.
Allah pun
memberikan balasan dengan
dijadikannya
sebagai
pewaris surga Firdaus:
وَٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَٰتِهِمْ
يُحَافِظُونَ - أُولَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْوَٰرِثُونَ - ٱلَّذِينَ يَرِثُونَ
ٱلْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ
“Dan orang-orang
yang memelihara shalatnya, mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi,
(yakni) mereka yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka akan kekal di
dalamnya”. (QS.
Al Mu’minun: 9 – 11)
Allah
pun akan dapat melebur dan menghapus dosa-dosanya, bagaikan orang yang selalu
mencuci badannya setiap hari, secara berulang-ulang, sebagaimana sabda
Rasulullah SAW,
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ
نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ ، يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا ، مَا
تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ » . قَالُوا لاَ يُبْقِى مِنْ دَرَنِهِ
شَيْئًا . قَالَ « فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ ، يَمْحُو اللَّهُ
بِهَا الْخَطَايَا
“Tidaklah kalian perhatikan, seandainya ada
sungai di depan pintu rumahmu, dan dia mandi setiap hari lima kali, apakah
masih ada kotoran yang tersisa?” Mereka menjawab, “Tidak ada kotoran yang
tersisa sedikit pun,” Rasulullah SAW bersabda, “Begitulah perumpamaan shalat
lima waktu, di mana Allah menghapus kesalahan-kesalahannya”.
(HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah)
Demikianlah sekelumit uraian tentang sholat sebagai pencegah dari perbuatan keji dan munkar sebagai refleksi dari peringatan isro’ mi’roj, Mudah-mudahan bermanfaat dan menjadi pemicu bagi kita untuk meningkatkan kualitas shalat kita. Dengan shalat yang khusyu’, in syaa Allah berbagai bentuk perbuatan maksyiyat, keji dan mungkar akan dihindarkan oleh Allah dari diri, keluarga dan masyarakat kita. Aamiin ya Robbal-‘Alamiin..
Komentar
Posting Komentar