Kiat Sukses Menjalani Ramadhan

 


Kiat Sukses Menjalani Ramadhan


            Meraih sukses di bulan Ramadhan tentu menjadi dambaan semua orang beriman yang diberikan karunia indah Ramadhan oleh Allah SWT. Setelah sekian kali menjalani Ramadhan, semoga tidak sekedar menjalani rutinitas tahunan saja, namun selalu berproses di setiap tahunnya dengan menghadirkan ikhtiar untuk bisa lebih baik dalam menjalani Ramadhan.

            Sebagai bahan renungan, ada baiknya kita simak hadis Rasulullah SAW yang memberikan gambaran akan adanya kesia-siaan dalam menjalani ibadah, khususnya ibadah shoum (puasa) dan qiyam (sholat malam) di bulan Ramadhan, bahkan berakibat tidak diperolehnya ampunan Allah SWT.

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ، وَرُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهَر

” Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya rasa lapar. Dan betapa banyak orang yang sholat malam, tapi tidak mendapatkan dari sholatnya kecuali hanya begadang ” (HR Ibnu Majah)

عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : .... إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامِ عَرْضَ لِي فَقَالَ: بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ فَقُلْتُ: آمِينَ .....

Dari Ka’ab Bin ‘Ujrah (ra) ia berkata :  Rasulullah S.A.W bersabda :…… “Sesungguhnya Jibrail a.s. telah membisikkan (doa) kepadaku, katanya: “Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi dosanya tidak diampuni”.  Lalu aku pun mengaminkan doa tersebut…. [HR. Al-Bayhaqi]

            Maka agar kita terhindar dari kesia-siaan dalam menjalani ibadah di bulan Ramadhan, berikut ini ada 3 (tiga) tahapan yang dapat dilakukan. Ketika ketiga tahapan tersebut dipraktekan insya Allah sukses Ramadhan yang didambakan pun akan diraih.

1.      Lakukan Persiapan sedini mungkin (Pra Ramadhan)

a.      Persiapan Ruhiyah

§  Berdo’a memohon keberkahan dan karunia Ramadhan. “Allohumma bariklana fi Sya’ban wa balighna Ramadhana” / “Ya Allah, berkahi kami di bulan Sya’ban dan sampaikan umur kami di bulan Ramadhan”.


§  Bersyukur dan Bergembira

Ketika Allah SWT mengabulkan do’a dan berbagai pengharapan yang kita panjatkan, maka sudah seharusnya kita mensyukurinya dengan penuh kegembiraan. Imam Nawawi dalam  Al-Adzkar mengatakan :  ”Dianjurkan bagi setiap orang yang mendapatkan kebaikan dan diangkat dari dirinya keburukan, untuk bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur; dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai dengan keagungannya”.


Rasulullah SAW memberikan contoh mengenai sikap kita dalam menyambut Ramadhan melalui haditsnya beliau bersabda :

جَاءَ الشَّهْرُ الرَّمَضَانَ سَيِّدُ الشُّهُوْرِ بِاْلبَرَ كَاتِ فَمَرْحَبًا وَسَهْلاً وَاَكْرِمْ بـِهَا مِنْ زَائِرِ حُوَاتٍ

“Telah datang bulan Ramadhan, induk dari segala bulan dengan membawa banyak berkah. Maka ucapkan selamat datang dan muliakanlah ia sebagaimana (kita muliakan) tamu yang berkunjung kepada kita”.

§  Melakukan Tazkiayatun-nafs (Penyucian jiwa).  Allah SWT berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا 

“Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya”  (QS. Asy-Syams : 9)

    Beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagian proses tazkiyatun-nafs (penyucian jiwa) adalah :

ü  Saling memaafkan (Taghofur) antar sesama manusia

ü  Perbanyak istighfar dan tobat nasuha

ü  Perbanyak amal ibadah sunah secara umum, khususnya ibadah puasa sunah dan amalan sunah lain

ü  Tinggalkan perbuatan dosa, maksiyat & kebiasaan buruk yang akan menjauhkan dari rahmat Allah

ü  Membersihkan diri dari berbagai penyakit hati / ruhani yang akan merusak pahala puasa.

 

b.      Persiapan Fikriyah (llmu) ; Mempersiapkan bekal keilmuan seputar Ramadhan. 

Imam Al-Bukhari mengatakan bahwa ‘Al-Ilmu Qabla Al-Qaul wa Al-Amal’ artinya ‘Ilmu sebelum Ucapan dan Amal’.   Maka tanpa ilmu, kita tidak dapat beramal dengan benar. Pun tanpa memahami berbagai ilmu yang terkait dengan Ramadhan, kecil kemungkinan untuk dapat meraih kesuksesan Romadhon.  Pemahaman terhadap ilmu syar'i merupakan tanda kebaikan yang dikehendaki Allah SWT terhadap seseorang.  Oleh karena itu, suatu amal perbuatan tanpa dilandasi ilmu, maka kerusakannya lebih banyak daripada kebaikannya. Maka, menjelang Ramadhan sudah seharusnya kita mempersiapkan bekal wawasan seputar Ramadhan, dengan mempelajari fiqh puasa dan ibadah lain yang berkaitan dengan Ramadhan seperti shalat tarawih, i’tikaf, zakat, dan sholat ‘ied.

 

 

c.    Persiapan Jasadiyah (fisik) ;

Dengan menjadikan bulan Sya’ban sebagai momentum untuk melakukan warming up (pemanasan) dalam berbagai aktifitas ibadah, seperti puasa sunah, sholat sunah, dll dengan tetap menjaga kesehatan fisik agar dapat menjalankan aktifitas (ibadah) dengan paripurna.

 

d.    Persiapan Maliyah  (harta) ;

Harta yang diperlukan dalam menyambut bulan Ramdhan bukanlah untuk berlebihan dalam mempersiapkan makanan dan minuman saat sahur dan berbuka, bukan pula untuk mempersiapkan beraneka kebutuhan ‘idul fitri.  Tapi harta yang kita siapkan untuk membayar zakat (zakat fitrah dan zakat mal), juga untuk memperbanyak infaq dan shodaqoh, memberi ifthar (buka puasa) kepada orang lain dan membantu fakir dan miskin yang membutuhkan. Dan termasuk dalam persiapan maliyah adalah mempersiapkan harta agar dapat melaksanakan i’tikaf di sepertiga akhir Ramadhn dengan tanpa memikirkan beban ekonomi keluarga.


2.      Saat Ramadhan hadir, mamfaatkan karunia Ramadhan dengan sebaik-baiknya

§ Ketika hadir hilal Ramadhan, Rasulullah SAW mengajarkan sebuah do’a :

 اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، 

رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ

Allahu akbar, ya Allah jadikanlah hilal itu bagi kamu dengan membawa keamanan, keimanan, keselamatan dan kekuatan islam, dan membawa taufiq yang membimbing kami menuju apa yang engkau cintai dan engkau ridhoi. Tuhan kami dan Tuhan kamu (wahai bulan), adalah Allah. (HR.Ahmad)

 §  Luruskan Niat dalam Menjalani Amaliyah Romadhon.    Rasulullah saw bersabda, 

مَـنْ صَامَ  (قَامَ)  رَمَـضَانَ اِيْـمَـانًا وَاحْـتِسَابَا غُـفِـرَ لَهُ مَاتَقَـدَمَ مِـنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa (menegakkan sholat tarowih) dengan penuh keimanan dan mengharap ridho Allah (ikhllas), akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.

 §  Mewujudkan harmoni keluarga dengan aktifitas bersama selama Ramadhan, seperti makan sahur, berbuka puasa, tadarus, tarawih, taklim, sedekah, dan amaliyah Ramadhan lainnya.

 §  Berakhlak dengan akhlaknya orang yang berpuasa.   Rasulullah saw bersabda,

الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ

“Puasa adalah perisai, maka barang siapa sedang berpuasa janganlah berkata keji dan bertindak bodoh, jika seseorang mencela atau mengajaknya bertengkar hendaklah dia mengatakan: aku sedang berpuasa.” (Muttafaq ’alaih)

 خَمْسٌ يُفْطِرَانِ الصَائِمِ الْكَذِبُ وَالْغِيْبَةُ وَالنَمِيْمَةُ وَالْيَمِيْنُ الْكَاذِبَةُ وَالنَظَرُ بِشَهْوَةٍ

“Lima perkara yang membatalkan orang yang berpuasa ; dusta, ghibah, adu domba, sumpah palsu dan melihat dengan syahwat “.

 

§  Jauhi hal yang tidak bermamfaat / tidak mengikuti langkah pencuri amal (TV, HP, Pasar, Dapur, dll)   Rasulullah SAW bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَالَا يَعْنِيْهِ

“Diantara tanda sempurnanya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat.” 

(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)


 3.      Pasca Ramadhan dengan Mempertahankan amal setelah berakhirnya Ramadhan.

Firman Allah SWT tentang larangan memutus amal,

  وَلاَ تَكُوْنُوْا كَالَتِيْ نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَةً أَنْكَاثًا

”Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali...” (Q.S. An-Nahl : 92)

Hadis Rasulullah SAW bahwa amal yang paling dicintai Allah SWT adalah AMALAN YANG ISTIQOMAH,

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَاعْلَمُوا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: "Beramallah sesuai dengan sunnah dan berlaku imbanglah, dan ketahuilah bahwa salah seorang tidak akan masuk surga karena amalannya, sesungguhnya amalan yang dicintai oleh Allah adalah yang terus menerus walaupun sedikit." (H.R. Bukhori dan Muslim)

Wallohua’lam Bishowab…                        

Purbalingga, 02 Maret 2024 M / 21 Sya'ban 1445 H

(Oleh : Yuyu Yuniawati, S.Ag / Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Kec. Padamara & Kalimanah Kankemenag Purbalingga / Wakil Ketua 2 PD 'Aisyiyah Purbalingga / Komisi Perempuan, Remaja & Keluarga MUI Purbalingga)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMAHAMI KEMERDEKAAN SEBAGAI RAHMAT ALLAH SWT

Hidupkan 'Ruh' Ramadhan Demi Meraih Cinta-Nya