Murnikan Niat Puasa, Ampunan Allah Diraih
MURNIKAN NIAT PUASA, AMPUNAN ALLAH DIRAIH
Alhamdulillah, saat yang dinantikan,
‘kekasih’ Ramadhan yang dirindukan telah hadir setelah sebelumnya kita
bersungguh-sungguh dalam bermohon dan berdo’a kepada Allah agar diberikan karunia
Ramadhan di tahun ini. Ketika do’a yang kita mohonkan Allah Swt kabulkan, maka
menjadi sebuah keniscayaan untuk bersyukur dan bergembira dengan karunia
Ramadhaan yang Allah hadirkan untuk kita di tahun ini. Kesyukuran dan
kegembiraan Ramadhan ini tentu harus dibuktikan dengan kesungguhan untuk
memamfaatkan karunia Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya.
Salah satu hal penting yang harus
menjadi perhatian dalam menjalankan berbagai amaliyah Ramadhan, khususnya
amaliyah puasa Ramadhan yang menjadi kewajiban sebagai seorang muslim adalah
NIAT. Ketika jiwa belum dapat merasakan siraman kesejukan nuansa Ramadhan yang
penuh rahmat dan ampunan Allah, ketika kondisi jiwa dan keimanan terasa biasa-bisa saja dengan hadirnya
Ramadhan, tidak ada bedanya dengan sebelum Ramadhan hadir, bisa jadi ada yang
salah dengan niat kita ?
Mumpung masih di awal Romdhon, marilah
kita luruskan niat dalam menjalani ibadah puasa Romadhon kali ini, dan tentunya ibadah-ibadah lainnya sebelum muncul
penyesalan dalam diri karena keawaman dalam memahami pentingnya niat.
Niat adalah keinginan untuk melakukan suatu perbuatan. Siapapun yang berkeinginan melakukan sesuatu, tentulah diawali dengan niat. Sebagai contoh, jika dihadapannya disediakan makanan, lalu ia mempunyai keinginan untuk memakannya, maka ketika itu pastilah ia berniat terlebih dulu untuk memakannya. Karenanya niat itu tempatnya di dalam hati. Kita tidak akan mengetahui niat seseorang secara dzohir, kecuali jika niat tersebut dilafadzkaan dan terdengar oleh kita. demikian diungkapkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majumu’ah Al-Fatawa :
وَالنِّيَّةُ مَحَلُّهَا الْقَلْبُ بِاتِّفَاقِ الْعُلَمَاءِ ؛ فَإِنْ نَوَى
بِقَلْبِهِ وَلَمْ يَتَكَلَّمْ بِلِسَانِهِ أَجْزَأَتْهُ النِّيَّةُ بِاتِّفَاقِهِمْ
“Niat itu letaknya di hati berdasarkan
kesepakatan ulama. Jika seseorang berniat di hatinya tanpa ia lafazhkan dengan
lisannya, maka niatnya sudah dianggap sah berdasarkan kesepakatan para ulama.”
[Majmu’ah Al-Fatawa, 18:262]
Rasulullah SAW telah meletakkan dasar paling penting (niat) yang menjadi kaidah untuk setiap amalan yang dilakukan, sebagaimana hadis Rosulullah SAW yang diriwayatkan dari Umar r.a. :
إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ
وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ
فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها
أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ
Dari Umar r.a, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya amal seseorang itu tergantung dengan niatnya, dan bagi setiap orang balasannya sesuai dengan apa yang di niatkannya. Barangsiapa berhijrah dengan niat kepada Allah dan RasulNya, maka ia mendapatkan balasan hijrahnya kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa berhijrah dengan niat kepada keuntungan dunia yang akan diperolehnya, atau wanita yang akan dinikahinya, maka (ia mendapatkan balasan) hijrahnya kepada apa yang ia niatkan tersebut”. [Hadist Riwayat Bukhari & Muslim]
Pelajaran yang dapat diambil dari
hadits ini adalah :
👉 Tidak ada
amalan yang akan diterima Allah kecuali dengan lurusnya niat
👉 Manusia diberi
pahala dan dosa sesuai dengan niatnya.
Betapa pentingnya niat. Hadist tentang
niat ini merupakan titik tolak dalam kehidupan seorang muslim. Apa pun yang dilakukan
tidak memandang keuntungan, penampilan atau kedudukan, tidak mengharapkan
pujian orang, juga tidak takut celaan, tetapi yang diharapkan hanyalah ridho
Allah, hanya balasan kebaikan dari Allah dan tentunya juga surga-Nya. Oleh
sebab itulah niat menjadi lebih penting dari amalan itu sendiri.
Dalam pelaksanaan puasa, ada sebuah hadis Rasulullah SAW yang harus dijadikan sebagai peringatan bagi kita agar tidak menjadi menjadi orang yang celaka karena tidak mendapatkan ampunan Allah. Hadis tersebut adalah :
عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ، قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : .... إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ
السَّلَامِ عَرْضَ لِي فَقَالَ: بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَلَمْ يُغْفَرْ
لَهُ فَقُلْتُ: آمِينَ .....
Dari Ka’ab Bin
‘Ujrah (ra) ia berkata : Rasulullah
S.A.W bersabda :…… “Sesungguhnya Jibrail a.s. telah membisikkan (doa) kepadaku,
katanya: “Celakalah orang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi dosanya tidak
diampuni”. Lalu aku pun mengaminkan doa
tersebut…. [HR.
Al-Bayhaqi]
Jika dikaitkan dengan hadis nabi SAW :
مَـنْ صَامَ رَمَـضَانَ اِيْـمَـانًا وَاحْـتِسَابَا غُـفِـرَ لَهُ مَاتَقَـدَمَ مِـنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa berpuasa Romadhon dengan penuh keimanan dan mengharap ridho Allah (ikhllas), akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Mutafaq 'alaih)
Berdasarkan hadis ini, ada keterkaitan antara niat dalam berpuasa dengan ampunan Allah. Ketika ada seorang yang menjalankan puasa namun hanya sekedar ikut-ikutan atau karena tujuan duniawi lain, tidak didasari dengan keimanan dan pengharapan akan ridho Allah, maka ampunan Allah tidak didapatkan. Tentu ini menjadi sebuah kerugian dan kecelakaan yang besar. Karena itu, disinilah pentingnya meluruskan dan memurnikan niat puasa, perlu ditanamkan di dalam hati bahwa niat dalam melaksanakan ketaatan harus didasari dengan penuh keimanan dan mengharapkan ridho-Nya.
Dengan keimanan maksudnya adalah
meyakini bahwa ibadah puasa yang dijalani merupakan kewajiban yang harus
dilaksanakan, tidak merasa terbebani atau terpaksa, namun dinikmatinya perintah
ini demi pembuktian atas ketaatan terhadap perintah Allah yang terdapat dalam
surat Al-Baqoroh ayat 183.
Adapun maksud dari ihtisaban adalah
pengharapan akan ridho Allah Swt (ikhlas). Tidak ada tujuan lain dalam
menjalani puasa dan amaliyah Ramadhan lain selain hanya berharap ridho-Nya.
Karena inilah makna ikhlas yakni “Memurnikan”, terkandung maksud bahwa niat
dalam beramal itu semata-mata karena berharap ridho Allah Swt. Ketika Allah meridhoi
amal yang kita lakukan, maka dengan rahmat-Nya Allah Swt akan memberikan balasan
berupa pahala yang kelak akan menjadi bekal berharga di kehidupan akhirat.
Ketika ibadah puasa yang dijalani
itu betul-betul dilandasi keimanan kepada Allah dan murni kita niatkan hanya
berharap ridho Allah, maka apa yang dijanjikan berupa ampunan Allah atas
dosa-dosa kita sebagaimana yang telah Allah Swt janjikan akan dapat kita raih.
Semoga dengan lurusnya niat kita
dalam berpuasa, maka tujuan dari ibadah puasa Ramadhan ini yakni untuk mencapai
derajat takwa insya Allah akan tercapai. Semoga dengan ketaqwaan ini, apa yang
menjadi harapan kita agar Allah memberi rahmat, ampunan dan pembebasan dari api
neraka pun akan dapat kita raih.
Mantap lanjutkan
BalasHapus