PEREMPUAN DAN BUAH KEISTIQOMAHAN


 PEREMPUAN DAN BUAH KEISTIQOMAHAN


Berawal dari sebuah pertanyaan salah seorang jama’ah melalui chat di whatsapp yang bertanya tentang apakah perempuan yang sedang haid masih bisa meraih limpahan pahala dari Allah di bulan Ramadhan ini ? Ia merasa kecewa karena hampir setiap tahunnya tidak dapat menjalani amaliyah Ramadhan secara paripurna dengan hadirnya tamu (menstruasi) yang memang sudah menjadi siklus bulanan sebagian besar kaum perempuan. Terlebih ketika tamu tersebut hadir di sepertiga akhir Ramadhan moment special bagi orang beriman untuk meraih bonus Ramadhan  lailatul-qodar. Pertanyaan ini mewakili kaum perempuan yang bisa jadi memiliki perasaan yang sama, kecewa dan galau dengan hadirnya haid yang rutin dialami setiap bulannya.  

Kodrat seorang perempuan yang sudah baligh tentu akan mengalami siklus bulanan (haid / mestruasi) bisa jadi datang pada di bulan Ramadhan, yang membuat sebagian kaum muslimah merasa kecewa karena tidak dapat melaksanakan ibadah puasa wajib dan ibadah lainnya secara paripurna.  

Kekecewaan karena tidak dapat melaksanakan ibadah saat datang haid pernah dialami ummul mukminin Aisyah radhiyallahu'anha sampai-sampai Rasulullah SAW pun menghibur Aisyah yang bersedih karena keburu datang bulan, padahal belum sempat menjalankan manasik haji.

Dari ‘Aisyah ra berkata, “Kami keluar (safar) bersama Nabi SAW dan tujuan kami hanyalah ibadah haji. Ketika kami tiba di Sarif atau dekat dengannya, aku mengalami haid. Kemudian Nabi SAW masuk menemuiku sementara aku sedang menangis. Lalu beliau bertanya, ‘Apakah engkau mengalami haid ?’

Aisyah menjawab, ’Iya.’ Beliau SAW bersabda, “Sesungguhnya ini adalah sesuatu yang telah Allah tetapkan (takdirkan) bagi kaum wanita dari anak cucu Adam. Maka lakukanlah amalan-amalan haji, hanya saja janganlah engkau Tawaf di Ka'bah sebelum engkau mandi (setelah suci dari haid).’ Aisyah berkata, ‘Kemudian Rasulullah SAW berkurban dengan menyembelih seekor sapi yang diniatkan untuk semua istrinya.’” (HR Bukhari – Muslim).  

Lalu bagaimana agar setiap muslimah yang tengah mengalami siklus bulanan (haidh) ini tetap mendapatkan limpahan pahala ibadah Ramadhannya ?

Ustadz Dr Adi Hidayat, Lc, MA, Direktur Quantum Akhyar Institute, menjelaskan dalam salah satu chanel youtube nya bahwa perempuan yang terkena haid tidak perlu kecewa, karena pahala amalan rutin yang dilakukan saat dirinya suci akan tetap diberikan secara sempurna. Ketika seorang muslimah dalam kondisi suci dan dia banyak melakukan amalan-amalan secara rutin, baik amalan wajib atau sunah, maka jika datang haidh padanya, pahala amalan-amalan baik itu tetap diberikan, selama dirinya haid.  

Itu sebabnya, rugi bagi perempuan yang ketika suci hanya menjalankan amalan-amalan fardu saja. Sebab dia pun hanya akan mendapatkan pahala dari amalan yang fardu saja ketika haid.

Padahal jika ia melakukan juga amalan sunnah ketika dalam kondisi suci, maka saat haid Allah akan catatkan baginya pahala yang fardu dan sunnah meskipun ia sedang tidak menjalankan ibadah tersebut karena haid.

Jadi ketika seorang perempuan meninggalkan suatu amalan yang telah dirutinkannya (istiqomah) karena alasan syar’i seperti karena haid,  sakit, berada dalam perjalanan jauh (safar), atau dalam keadaan lemah karena usia tua, maka tidak akan terputus amalan pahalanya, walaupun ia meninggalkan amalan tersebut. 

Hal ini pernah disabdakan Rasulullah SAW dalam hadits dari Abu Musa r.a, Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” (HR. Bukhari, no. 2996) 

Dari hadits itu, Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan,

وَهُوَ فِي حَقّ مَنْ كَانَ يَعْمَل طَاعَة فَمَنَعَ مِنْهَا وَكَانَتْ نِيَّته لَوْلَا الْمَانِع أَنْ يَدُوم عَلَيْهَا

“Hadits di atas berlaku untuk orang yang ingin melakukan ketaatan namun terhalang dari melakukannya. Padahal ia sudah punya niat kalau tidak ada yang menghalangi, amalan tersebut akan dijaga rutin.” (Fath Al-Bari, 6: 136)  

Dalam hadits lain dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash r.a. ia berkata Rasulullah SAW bersabda,

الْعَبْدَ إِذَا كَانَ عَلَى طَرِيقَةٍ حَسَنَةٍ مِنَ الْعِبَادَةِ ثُمَّ مَرِضَ قِيلَ لِلْمَلَكِ الْمُوَكَّلِ بِهِ اكْتُبْ لَهُ مِثْلَ عَمَلِهِ إِذَا كَانَ طَلِيقاً حَتَّى أُطْلِقَهُ أَوْ أَكْفِتَهُ إِلَىَّ

Seorang hamba jika ia berada pada jalan yang baik dalam ibadah, kemudian ia sakit, maka dikatakan pada malaikat yang bertugas mencatat amalan, “Tulislah padanya semisal yang ia amalkan rutin jika ia tidak terikat sampai Aku melepasnya atau sampai Aku mencabut nyawanya.” (HR. Ahmad, 2: 203).

Inilah buah dari keistiqomahan yang telah dijanjikan Allah SWT dalam firmanNya,  

إِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ أُوْلَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِيْنَ فِيْهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

"Sesungguhnya orang orang yang mengatakan : Rabb kami ialah Allah, kemudian mereka istiqomah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan : janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu:. (QS Fushilat : 30).  

Mujahid, ‘Ikrimah, dan Zaid bin Aslam menafsirkan ayat tersebut bahwa : “Janganlah takut pada akhirat yang akan kalian hadapi dan janganlah bersedih dengan dunia yang kalian tinggalkan yaitu anak, keluarga, harta dan tanggungan utang. Karena para malaikat nanti yang akan mengurusnya.” Begitu pula mereka diberi kabar gembira berupa surga yang dijanjikan. Dia akan mendapat berbagai macam kebaikan dan terlepas dari berbagai macam kejelekan.  

Zaid bin Aslam mengatakan bahwa “Kabar gembira di sini bukan hanya dikatakan ketika maut menjemput, namun juga ketika di alam kubur dan ketika hari berbangkit. Inilah yang menunjukkan keutamaan seseorang yang bisa istiqomah”.  

Sebegitu besarnya keutamaan yang akan didapat ketika mampu beramal dengan kontinyu (istiqomah), sehingga Rasulullah SAW menyebutnya sebagai amal yang paling dicintai Allah, sebagaimana sabdanya, 

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَدِّدُوْا وَقَارِبُوْا وَاعْلَمُوْا أَنْ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدَكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ ، وَأَنَّ أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: "Beramallah sesuai dengan sunnah, dan berlaku imbanglah, dan ketahuilah bahwa salah seorang tidak akan masuk surga karena amalnya, sesungguhnya amal yang dicintai Allah adalah amal yang terus menerus walaupun sedikit."  (H.R. Bukhori dan Muslim)  

Demikianlah, hadirnya siklus bulanan (haid) yang dialami kaum perempuan, baik di bulan Romadhon dan juga di bulan lainnya sudah menjadi kodrat dan ketentuan Allah bagi kaum perempuan, sehingga hadirnya haid bukanlah penghalang untuk meraih pahala sebesar-sebesarnya, asalkan selalu berikhtiar untuk beristiqomah dalam beramal baik dalam amalan yang wajib maupun sunah.  Semoga Allah mampukan kita untuk menjadi hamba-Nya yang istiqomah dalam islam, iman dan amal. Aamiin ya robbal’alamiin.

Wallohua'lam Bishowab..

( Oleh : Yuyu Yuniawati, S.Ag,  Penyuluh Agama Fungsional KUA Kec Mrebet / Ketua Majelis Tabligh PD 'Aisyiyah Purbalingga )


Komentar

  1. Semakin byk kreatifitas menulis di blog kelak nanti ada kemanfaatan yg ruar biasa di perolehnya

    BalasHapus
  2. Maasya Allah tabarakallah terus menebar hikmah dan manfaat untuk ummat

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMAHAMI KEMERDEKAAN SEBAGAI RAHMAT ALLAH SWT

Hidupkan 'Ruh' Ramadhan Demi Meraih Cinta-Nya

Kiat Sukses Menjalani Ramadhan