Kisah Inspiratif


Ilustrasi, Perjuangan & Pengorbanan Mualaf dalam Mempertahankan Hidayah


KISAH PERJALANAN MUALAF DARI SEMINARI MENUJU PANTI 

Sejak seringnya saya berinteraksi dengan para mualaf, mendengar kisah perjalanannya dalam mendapatkan hidayah, dan bagaimana pahit getirnya kehidupan pasca menjadi mualaf. Terbersit dibenak saya untuk menuliskan kisah-kisah mereka dalam sebuah buku “Kumpulan kisah perjuangan mualaf dalam meraih dan mempertahankan hidayah”. Namun sampai saat ini angan-angan itu belum bisa terwujud. Serasa mendapatkan energi positif ketika saya hadir di acara “Sensitif”, SENin SIang InterakTIF yang rutin diselenggarakan secara virtual melalui media zoom meeting di sebuah grup whatsapp.

Pada Sensitif edisi ke-enam, tema yang diangkat adalah  Membangun Budaya Literasi Bagi Penyuluh Agama Berkemajuan” dengan narasumber Azizah Herawati, S.Ag, M.S.I, penyuluh agama teladan nasional dan pegiat literasi yang telah menghasilkan banyak karya dan penghargaan. Di akhir sesi, mbak Hera, begitu biasa kami memanggilnya, mengajak untuk bergabung dengan komunitas pegiat literasi yang sedang menyiapkan buku “Antologi Kisah Inspiratif”.

Tak berfikir panjang saya pun bergabung di komunitas pegiat literasi. Meskipun ini kali pertama, Bismillah saya harus mencoba melahirkan karya kisah inspiratif mualaf, dengan harapan semoga ini menjadi titik awal untuk mewujudkan mimpi membuat kumpulan kisah perjuangan para mualaf. Tidak ada kata terlambat untuk dapat mewujudkan sebuah harapan dan impian agar tidak sebatas menjadi angan-angan semata. Begitulah saya mengobati dan memotivasi diri bahwa “Better late than never” lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Memang fenomena mualaf sejak Islam hadir sampai saat ini merupakan sesuatu yang tidak asing lagi. Dalam sejarah Islam kita mengetahui kisah Bilal seorang mualaf dari kalangan budak, yang rela tubuhnya ditindih dengan batu besar di atas gurun pasir yang teramat sangat panas di tengah terik matahari. Atau kisah Sumayah, yang dibunuh dengan cara keji dan biadab, tubuhnya disiksa dan kemaluannya ditusuk dengan besi panas. Keduanya rela mengalami siksaan sampai mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan keyakinannya. Fenomena seperti ini masih terjadi dialami para mualaf, walaupun dengan kasus yang berbeda. Namun tendensi penyiksaan terhadap mualaf, baik secara fisik atau psikis itu fakta yang terjadi secara nyata, seperti yang dialami oleh seorang mualaf yang kisah perjalanannya dalam mempertahankan hidayah saya angkat dalam tulisan ini.

Fenomena yang dialami para mualaf inilah yang menggerakkan hati dan fikiran saya untuk menginisiasi membuat komunitas mualaf agar mereka dapat saling mengenal, bersilaturahmi dan saling menguatkan. Alhamdulillah ide ini mendapatkan respon positif, baik dari Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Purbalingga tempat dimana saya bertugas saat itu sebagai Penyuluh Agama, juga dari salah seorang mualaf yang eksistensi dan kiprahnya sudah cukup dikenal di Purbalingga. Ia bernama Stefanie Ummu Syahida, S.Psi. seorang mualaf yang dikenal dengan aktifitasnya sebagai seorang ustadzah yang sampai saat ini aktif mengisi kajian di lebih dari 10 kelompok pengajian. Iapun dikenal dengan usahanya membuka Griya Bekam Mamah Fani.

Ketika saya mewawancarainya, ternyata sudah cukup lama ia berangan-angan ada wadah yang menaungi para mualaf di Purbalingga agar pahit getir kehidupan saat menjalani perjalanan pasca berpindah agama yang dialaminya itu tidak dialami oleh mualaf lainnya. Dengan penuh semangat iapun mengungkapkan alasannya, “Banyaknya persoalan yang dihadapi mualaf pasca berpindah agama, lemah iman, lemah ilmu tentang Islam, bahkan lemah ekonomi karena mengalami embargo, intimidasi dan isolasi oleh keluarga dan komunitas sebelumnya, sehingga rentan terjadi goncangan jiwa, hidup terlunta-lunta. Dalam kondisi berat inilah, sesungguhnya mereka sangat membutuhkan perhatian lebih dari saudara barunya sesama muslim”.

Ungkapannya itu menyadarkan saya bahwa “Sejatinya Islam hadir di tengah mualaf tidak sekedar membimbingnya berikrar syahadat, juga untuk memberikan perlindungan, pendampingan dan pembinaan secara kontinyu, sehingga tidak ada lagi kasus mualaf yang kembali pada agamanya semula (murtad) karena tidak kuat dalam menjalani ujian berat yang dialaminya”. Inilah yang menyemangati saya membentuk forum komunitas mualaf. Dan alhamdulillah hari Kamis, 09 Februari 2017 M bertepatan dengan 12 Jumadil-Awal 1439 H menjadi hari bersejarah dengan digelarnya silaturahmi antar mualaf di Balai Nikah KUA Kecamatan Purbalingga. Melalui forum ini pembinaan pun rutin dilaksanakan. Dan di tengah perjalanan pembinaan rutin inilah, saya banyak mendapatkan kisah inspiratif dari para mualaf. Salah satunya dari mualaf Stefani Ummu Syahida, S.Psi. yang sangat menginspirasi sesame mualaf dengan kisah perjalanannya yang mengharu biru dan kiprahnya saat ini sebagai seorang ustadzah pencerah umat, bil-khusus di internal komunitas mualaf.

Stefanie adalah nama baptis yang diberikan sang ayah sejak kecil. Ia lahir di Bandarjaya Lampung Tengah pada tanggal 26 Agustus 1983 dari rahim seorang muslimah. Ayahnya seorang Kristen Katholik berstatus duda dengan 4 anak, menikahi ibunya seorang muslimah berstatus janda dengan 4 anak. Keduanya melangsungkan perkawinan secara Islam. Sang ayah pun berikrar syahadat sebelum ijab qobul perkawinan digelar. Namun setelah menikah sang ayah kembali pada agamanya semula Kristen Katholik. Adapun sang ibu meskipun sering diajak ibadah di gereja namun ia tetap berpegang teguh pada Islam.

Jadilah Fani, nama kecil Stefanie, dibesarkan di sebuah keluarga yang menganut dua keyakinan. Namun sayangnya jauh dari nilai-nilai toleransi karena sang ayah sering memaksakan kehendaknya kepada sang ibu agar keluar dari Islam dan mengikuti keyakinannya sebagai seorang Kristen Katholik. Kekerasan dalam rumah tangga pun kerap terjadi menimpa sang ibu. Ia sering mendapatkan perlakuan kasar, seperti dipaksa ikut kebaktian di gereja, karena menolak makian dan pukulan pun dialaminya,  mukena dan al-Qur’an pun dibakarnya saat ketahuan sang ibu melaksanakan sholat. Menyaksikan kondisi yang dialami sang ibu membuat Fani hanya bisa manut mengikuti apa pun keinginan sang ayah, termasuk mengikuti keyakinannya menjadi seorang Kristen Katholik.

Perjalanan Fani dalam mendapatkan hidayah terjadi saat kelas 2 SMA. Suatu hari ketika mata pelajaran Agama Islam, ia memilih untuk tidak meninggalkan ruang kelas seperti biasanya, karena kondisi badan sedang tidak sehat. Guru Agama Islam yang kebetulan baru mengajar di sekolah itu, bernama Pak Suwito, ia tidak tahu kalau diantara peserta didiknya yang ikut mata pelajarannya saat itu ada yang beragama Kristen Katholik. Saat tiba giliran Fani membacakan surat al-‘Ashr, ia sama sekali tidak mampu membacanya, pak guru pun memberikan tugas untuk menghapalkannya. Fani tidak menolak dan iapun tidak berterus terang kalau dirinya seorang Kristen Katholik.

Karena dituntut harus hapal surat al-‘Ashr, Fani minta bantuan temannya untuk menuliskan surat al-‘Ashr dan iapun mencoba menghafalkannya. Di tengah proses perjuangan menghafal surat al-‘Ashr, ia mengalami mimpi yang menjadi jalan hidayah dirinya menjadi seorang muslimah. Pada suatu malam ia bermimpi didatangi seseorang yang memintanya untuk membacakan sebuah tulisan Arab. “Bacalah” orang itu menyuruhnya untuk membaca. Dalam suasana bingung Fani hanya bisa menjawab “Saya tidak bisa membacanya”. Lalu orang itu membacakan tulisan Arab yang ternyata surat al-‘Ashr yang  telah dihafalnya. Fani pun berkata “Itu surat al-‘Ashr yang saya hafal dan sayapun  hafal terjemahnya”. Fani pun membaca surat al-‘Ashr sampai ia dibangunkan ibunya yang keheranan mendengar putrinya mengigau surat al-‘Ashr. Betapa bahagianya sang ibu mendengar cerita mimpi putrinya, sembari berharap dan berdoa semoga itu menjadi pertanda putrinya akan mendapatkan hidayah.

Keesokan harinya, di sekolah sambil menyetorkan hafalan surat al-‘Ashr, Fani menceritakan mimpinya kepada Pak Guru Suwito. Mendengar cerita mimpi anak didiknya, rasa haru dan bahagia menyelimuti relung hati Pak Suwito. Bagaimana tidak, ketidaksengajaan memberikan tugas hafalan surat al-‘Ashr kepada anak didiknya yang ternyata beragama Kristen Katholik itu ternyata menjadi jalan Allah memberikan hidayah melalui mimpi tersebut.  Lalu Fani memberanikan diri bertanya : “Pak guru, bolehkah saya ikut belajar pelajaran agama Islam di kelas ?”. Pak Suwito pun menjawab : “Boleh, tapi tidak di sekolah, kamu belajarnya di rumah bapak saja agar tidak menimbulkan pertanyaan diantara teman-temanmu”.

Setelah beberapa waktu belajar Islam, Fani memantapkan diri untuk masuk Islam. Dibimbing Pak Suwito sang guru agama, ia mengucapkan dua kalimah syahadat. Sejak saat itu ia mulai menjalankan ibadah shalat. Hingga suatu hari saat ia sedang shalat dzuhur di kamarnya, terdengar suara ayahnya memanggil. Karena tidak menyahut, ayahnya masuk ke kamar dan dilihatnya Fani sedang shalat. Sang ayah menarik mukenanya dengan tarikan yang cukup keras sampai Fani pun terjatuh dan pelipisnya berdarah mengenai ujung tempat tidur. Ia menarik Fani keluar kamar dan memanggil ibunya, memarahinya, memakinya, dan memukulnya karena mengganggap ia telah mempengaruhi Fani masuk Islam. Jadilah keduanya (Fani dan ibunya) menjadi korban pelakuan kasar sang ayah.

Pasca masuk Islam mengikuti jejak sang ibu, segala cara dilakukan sang ayah agar Fani kembali pada Kristen Katholik. Langkah menjauhkan Fani dari ibunya pun diambilnya. Fani yang saat itu tinggal bersama di Lampung Tengah, dipisahkan dari sang ibu dengan cara dititipkan pada keluarga pamannya di Magelang. Setibanya di Magelang, Fani dimasukkan di sekolah Seminari, sekolah calon biarawati. Dengan bersekolah di Seminari, tentu Fani tidak bebas untuk menjalankan kewajiban sholat. Maka iapun memberanikan diri meminta kepada Romo (Pendeta) agar diberi kesempatan melanjutkan di sekolah negeri mengingat dirinya sudah kelas tiga SMA agar bisa mendapatkan ijazah dan melanjutkan kuliah. Permintaannya pun dikabulkan, namun dengan syarat ia tetap diharuskan pulang ke Seminari.

Setiap hari Fani berangkat dan pulang mengendarai bus umum. Suatu hari di perjalanan menuju Seminari sepulang dari sekolah, Allah mempertemukannya dengan seorang perempuan berhijab yang ketika diganggu oleh preman di bus tersebut, mampu membela dirinya. Melihat keberanian dalam membela kehormatan dirinya, muncullah rasa kagum dan keinginan untuk mengenal lebih dekat sosok perempuan tangguh yang mampu menguatkan dirinya menjadi seorang muslimah yang kuat dan tangguh. Perempuan berhijab itu bernama Hafshoh yang ternyata aktif di Tapak Suci Putri Muhammadiyah.

Kesempatan emas inipun tidak disia-siakan, iapun menceritakan kondisi dirinya sebagai mualaf yang dipaksa tinggal di Seminari. Menyimak kisahnya, Hafshah bersedia membantu dan menawarkannya untuk tinggal di Panti Asuhan ‘Aisyiyah di Muntilan Magelang. Fani pun menyanggupi dan keduanya mengatur siasat agar Fani bisa keluar dari Seminari. Atas izin Allah, di suatu malam, Fani yang bertubuh mungil mampu keluar kabur dari Seminari dengan cara memanjat pohon dan tembok setinggi kurang lebih 3 meter. Sementara di saat yang sama, Hafshoh pun sudah menunggunya di luar dan ia mengantarkan Fani ke Panti Asuhan ‘Aisyiyah di Muntilan. Beberapa hari tinggal di Panti Asuhan Fani merasakan ketenangan bathin dan  kenyamanan tinggal dengan saudara seiman.

Namun, beberapa hari berselang, saat pulang sekolah ia dijemput paman dan kakeknya dan dipaksa pulang ke rumah pamannya. Disinilah perlakuan kasar dan tidak manusiawi dialaminya. Minggu pagi, ia dipaksa ikut kebaktian di gereja, karena menolak pamannya memarahinya, memakinya, dan memukulnya, bahkan mendapatkan perlakuan yang menjijikkan dari keponakannya yang melempari wajahnya dengan kotorannya dan menjejalkannya ke mulut Fani. Tidak cukup sampai disini, siksaan fisikpun berlanjut, Fani diikat dan dijemur di halaman rumah seharian, sorenya Fani diseret, dibawa ke belakang rumah dan kembali diikat di kandang kambing. Malam harinya ia mampu melepaskan ikatan tali dan iapun kabur dari rumah pamannya. Ia berusaha mencari pertolongan dengan mengetuk pintu rumah tetangganya satu demi satu. Namun tidak ada satupun yang berani memberikan pertolongan. Sampai akhirnya Allah mengetuk hati seseorang yang ditemuinya bersedia menolong dan mengantarkannya kembali ke Panti Asuhan’Aisyiyah di Muntilan.

Perlakuan kasar dan tidak manusiawi yang dialaminya justru semakin meneguhkan keyakinannya dan ia menyadari bahwa inilah konsekuensi atas pilihannya menjadi seorang muslimah. Terlebih ketika mengingat kisah mualaf Sumayah semakin menguatkannya untuk tetap bertahan dalam Islam. Setelah beberapa kali ia mendapatkan perlakuan kasar dan tidak manusiawi dari keluarga paman dan kakeknya. Beberapa kali pula ia pulang ke Panti Asuhan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Akhirnya pengurus Panti Asuhan mengambil sikap dengan mendatangi paman dan kakeknya sembari menyampaikan bahwa “Mulai saat ini Stefani sudah berada di bawah perlindungan Panti Asuhan ‘Aisyiyah, jika  terjadi lagi tindak kekerasan terhadap dirinya, kami tidak segan-segan akan menindak secara hukum dan melaporkan ke Komnas Perlindungan anak”.

Sejak peristiwa ini Fani hidup dengan tenang tanpa gangguan dan mampu menyelesaikan sekolahnya. Lulus dari SMA, ia mendapatkan kesempatan melnjutkan kuliah di UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) dengan biaya gratis. Pendidikan dan pembinaan yang ia dapatkan di Panti Asuhan ‘Aisyiyah dan berlanjut di UMM, mennghantarkannya menjadi seorang perempuan berkarakter dan berilmu pengetahuan.

Potret perjalanan hidup yang dialami Fani pasca menjadi mualaf dan kiprahnya saat inilah yang menjadikannya sosok mualaf penuh inspiratif. Terlebih ketika dengan ketulusan dan keilmuannya, setelah berdiskusi panjang dengan sang ayah, atas izin Allah akhirnya sang ayah pun menerima kebenaran Islam. Tidak ada dendam kesumat di hatinya meski ia kerap mendapatkan perlakuan kasar sang ayah, yang ada luapan kebahagiaan tak terkira saat mampu menuntun sang ayah berikrar syahadat. Teruslah berdakwah dan berkiprah untuk tegaknya Islam dan kemajuan forum mualaf di Purbalingga wahai sang inspratorku, ustadzah Stefanie Ummu Syahida, S.Psi.



( Oleh : Yuyu Yuniawati, S.Ag. / Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Mrebet Purbalingga )

Tulisan ini dimuat dalam Buku "Kaulah Sosok Inspiratif di Hatiku (Antologi Kisah Penyemangat Kalbu), Juni 2021




Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMAHAMI KEMERDEKAAN SEBAGAI RAHMAT ALLAH SWT

Hidupkan 'Ruh' Ramadhan Demi Meraih Cinta-Nya

Kiat Sukses Menjalani Ramadhan