OPTIMIS DI TENGAH WABAH
OPTIMIS DI TENGAH WABAH
Sebagaimana kita
ketahui bersama, bahwa pandemi global wabah
virus covid-19 yang terjadi sejak akhir Desember 2019 sampai saat ini
sudah lebih dari satu tahun belum menunjukkan akan
mereda. Bahkan kondisi saat ini semakin
mengkhawatirkan dengan semakin banyaknya masyarakat yang menjadi korban
terpaparnya virus Covid-19 ini. Di tengah situasi wabah yang berkepanjangan
ini, situasi kehidupan pun menjadi semakin sulit, sehingga pada sebagian
masyarakat muncul sikap cemas, takut, dan putus asa, sampai ada yang lebih
memilih untuk mengakhiri hidup, dianggapnya itu akan menyelesaikan berbagai
himpitan permasalahan yang dialaminya, naudzubillah.
Sebagai
seorang yang beriman, tentu hal seperti ini tidak perlu terjadi, karena kita
meyakini sepenuhnya bahwa apapun yang menimpa kehidupan kita, itulah ketentuan
Allah untuk kita.. Allah yang menghendaki adanya wabah ini dalam kehidupan
manusia di bumi ini, untuk menguji keimanan hambaNya, siapakah diantara kita
yang terbaik amalnya, siapa diantara kita yang mampu mensikapi adanya wabah ini
dengan sikap optimis dan penuh harap akan berbagai kebaikan dari Allah
SWT.
Ibnu
Sina telah mengabarkan kepada kita bahwa,
“Kepanikan adalah separuh dari penyakit.
Ketenangan adalah separuh dari obat. Dan kesabaran adalah
awal dari kesembuhan”.
Maka di
tengah situasi wabah yang masih belum
terkendali ini, sejatinya kita munculkan rasa ketenangan
dan kepasrahan sembari berikhtiar semaksimal mungkin, baik
ikhtiar duniawi maupun ikhtiar ukhrowi, sehingga berbagai perasaan negatif itu akan sirna, berganti
dengan sikap optimis dan penuh harap.
Islam
mengajarkan umatnya untuk bersikap optimis dan penuh harap akan kebaikan yang
Allah berikan ditengah musibah berat yang menimpa seperti musibah berupa wabah pandemic
Covid-19 yang saat ini Allah takdirkan hadir di kehidupan kita. Sikap optimis
dan penuh harap ini sesungguhnya telah dicontohkan oleh generasi terbaik umat ini. Rasulullah
SAW dan para nabiyullah telah
memberikan teladan, bagaimana seharusnya kita bersikap saat berada ditengah
musibah / kesulitan yang begitu berat. Allah mengabadikan kisah mereka dalam
al-Qur’an.
Saat ibunda Siti Maryam binti Imron menghadapi hal yg sangat berat, apa yang dikatakan Allah kepadanya ? “Makanlah dan minumlah serta bergembiralah” (Q.S. Maryam : 26).
Saat Nabi Musa a.s. menceritakan kisahnya di hadapan Nabi Syu’aib a.s., apa yg dikatakan Nabi Syu’aib kepadanya ?
“Janganlah
kamu takut, kamu telah selamat dari orang-orang dzolim itu..,” (Q.S.Al-Qoshosh : 25)
Saat orang-orang kafir Quraisy berencana akan membunuh Rasulullah SAW,
apa yang dikatakan Nabi SAW kepada sahabatnya Abu Bakar Ash-Shidiq yang
terlihat begitu cemas ?
لَا
تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ
“Janganlah
bersedih, sungguh Allah
akan senantiasa bersama kita”
(Q.S. At-Taubah : 40)
Bahkan saat kita bergelimang dosa / maksiyat, apa yang Allah firmankan untuk
kita ?
لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ
اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ
جَمِيعًا ۚ
“Janganlah
berputus asa dari
rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya”. (Q.S. Az-Zumar : 53)
Mencermati ayat-ayat tersebut, ternyata kata-kata bernada sedih dalam
al-Qur’an disampaikan dalam kalimat negatif dalam bentuk larangan. Ini
menunjukan betapa Islam sesungguhnya tidak menghendaki kesedihan, ketakutan, dan
keputusasaan terjadi pada umatnya. Karena perasaan-perasaan negatif itu
selain merupakan kondisi yang tidak menyenangkan dan tidak
ada maslahatnya bagi hati, Allah SWT pun telah memberikan peringatan dalam firman-Nya,
إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ
لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ
اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ
فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya
pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman
itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun
kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya
orang-orang yang beriman bertawakkal.” (Q.S. Al-Mujadilah : 10)
Dalam ayat tersebut Allah memperingatkan kita bahwa hal yang paling disenangi oleh syetan adalah
membuat hati seorang hamba bersedih, karena itu akan memudahkannya untuk menjauhkan si hamba dari Allah, menghentikan rutinitas amalnya dan kebiasaan
baiknya. Maka sebagai
orang beriman, sejatinya tidak berada dalam lingkaran perasaan negatif itu di
saat kita berada dalam situsasi seberat dan sesulit apapun.
Betapa Islam adalah agama yang menginginkan umatnya senantiasa
bahagia dengan begitu banyaknya limpahan pahala dan rahmat-Nya bagi
hamba-hamba-Nya yang beriman yang taat patuh pada syari’at-Nya. Allah Sang Pembuat Syari’at tidak
menginginkan hamba-Nya bersedih dan takut. Tidaklah pantas bagi kita sebagai
orang yang beriman untuk cemas, sedih, dan berputus asa dari apa yang telah
Allah tetapkan untuk kita. Karena Islam diturunkan untuk
membawa kebahagiaan, bukan untuk menyusahkan. Allah berfirman,
مَا أَنْزَلْنَا
عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ
“Kami
tidaklah menurunkan Al Quran ini kepadamu untuk membuatmu susah” (QS. Thaha: 2).
Maka pelajaran
yang dapat kita ambil adalah bahwa dalam kondisi apapun, sesulit dan seberat
apapun musibah yang menimpa, juga dalam menghadapi wabah virus Covid-19 ini, mari kita jauhkan
diri kita dari rasa cemas, takut, sedih
dan putus asa. Sebaliknya
mari dekatkan diri kita untuk selalu menebarkan ucapan bernada
ketenangan, pesan-pesan kebaikan kepada semua manusia. In syaa Allah hal ini akan memantik tumbuhnya sikap optimis sebagaimana yang telah
dicontohkan Rasulullah SAW dan
para nabiyulloh.
Mari kita kuatkan
keyakinan dalam jiwa kita.. yakin
akan keberadaan dan kemaha-besaran Allah. bahwa Allah lah yang akan senantiasa
memberikan perlindungan dan pertolongan. Yakinlah bahwa
dalam kesulitan apapun, Allah tidak akan meninggalkan dan
membiarkan hamba-Nya yang beriman berada dalam ketakutan dan kesedihan. Yakinlah bahwa Allah tidak akan menurunkan
wabah, tanpa menghadirkan solusi untuk menghentikannya. Yakinlah bahwa wabah ini akan segera berlalu
dari kehidupan kita. Ingatlah janji Allah bahwa “Bersama kesusahan ada
kemudahan” (Inna ma’al-‘usri yusroo). Yakinlah bahwa rahmat dan kasih sayang Allah
senantiasa tercurah bagi hamba-Nya yang beriman dan bertaubat. Jangan kita cemas, sedih dan berputus asa
terhadap sesuatu yang sangat tidak menyenangkan yang telah Allah tetapkan,
termasuk wabah pandemic Covid-19 yang telah Allah tetapkan hadir dalam
kehidupan kita. Yakinlah bahwa sesungguhnya ada banyak hikmah dan kebaikan yang
bertebaran dibalik musibah ini.
Mari kita barengi keyakinan dan sikap optimis kita dengan semakin mendekatkan
diri kita kepada Allah SWT, kita jalin
hubungan yang lebih baik dengan Allah, yakni dengan menjauhi perbuatan dosa dan
maksiat, memperbanyak taubat, memperbanyak dzikir dan doa, memperbanyak amal
sholeh di tengah keterbatasan, inilah bentuk ikhtiar ukhrowi (protocol keimanan)
yang dapat kita lakukan.
Adapun bentuk ikhtiar duniawinya adalah mengikuti himbauan pemerintah
dengan selalu menerapkan protocol kesehatan 5M, yakni Memakai masker, Mencuci
tangan dengan sabun di air mengalir, Menjaga jarak fisik, Menjauhi kerumunan
dan Membatasi mobilitas dan interaksi. Dan
sebagai masyarakat awam, kita mempunyai kewajiban untuk mentaati fatwa dan
maklumat para ulama terkait dengan tata cara beribadah saat terjadi wabah yang
tentunya berbeda dengan tata cara beribadah dalam situasi normal. Semua itu kita lakukan sebagai bentuk kesungguhan
ikhtiar kita selain untuk memutus rantai penularan virus Covid-19 agar tidak
semakin banyak korban yang terpapar, juga tentunya demi kebaikan dan kemaslahatan bersama.
Wallohua’lam
bishowab..
(Oleh
: Yuyu Yuniawati, S.Ag, / Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Mrebet
Purbalingga)
Komentar
Posting Komentar