KEMATIAN, PEMBERI NASIHAT YANG DIAM
KEMATIAN, PEMBERI NASIHAT YANG DIAM
Imam Ghazali dalam Bidayatul Hidayah pernah menyitir salah
satu sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:
“Aku tinggalkan untuk kalian dua pemberi nasihat : yang berbicara
dan yang diam. Pemberi nasihat yang berbicara adalah Al-Qur’an, sedang pemberi nasihat yang diam adalah
kematian.”.
Banyaknya kabar
duka beberapa waktu ini yang menimpa saudara-saudara kita, baik yang wafat
karena terpapar Covid-19 ataupun bukan, secara tidak langsung sesungguhnya
Allah SWT sedang memberikan nasihat kepada kita untuk memperbanyak mengingat
kematian, karena kematian itu sendiri disabdakan Rasulullah SAW sebagai nasihat
yang diam (yang tidak berbicara). Dengan banyaknya kabar duka yang muncul
hampir setiap hari di hampir semua grup whatsapp, tanpa kita sadari,
sungguh telah banyak kesempatan yang
Allah hadirkan untuk kita agar lebih banyak mengingat kematian.
Kematian adalah
sesuatu yang sangat dekat dan pasti terjadi menimpa setiap makhluk yang
bernyawa. Allah SWT berfirman,
كُلُّ
نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ
وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan
merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan
pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka
sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan
yang memperdayakan” (Q.S. Ali Imron : 185)
Kematian akan menghampiri siapapun tanpa
mengenal usia, tua atau muda, sakit atau sehat, sedang bahagia atau bersedih.
Ketika saatnya hadir, kapanpun, dimanapun, dalam kondisi apapun, tidak ada
seorangpun yang mampu menghalanginya. Tidak bisa minta disegerakan ataupun
ditangguhkan walau hanya satu menit. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT,
وَلِكُلِّ
أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila
telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan
tidak dapat (pula) memajukannya. (Q.S.
Al-A’rof : 34)
Dalam
ayat lain, Allah SWT memperingatkan kita bahwa tidak ada seorangpun yang bisa
menghindar dari kematian,
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ
الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ ۗ
“Di mana saja kamu berada, kematian
akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh..”
(Q.S. An-Nisa : 78)
Kematian
disebut haadzim atau pemutus kelezatan dunia. Rasulullah SAW bersabda
agar umatnya memperbanyak mengingat kematian.
"Perbanyaklah mengingat pemutus
kelezatan (kematian)". (HR. An-Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
Pimpinan Pondok
Pesantren As-Shidqu Kuningan, Al-Habib Quraisy Baharun menyampaikan adanya
beberapa keutamaan dan mamfaat yang akan didapat dengan memperbanyak mengingat
kematian. Beliau menukil beberapa hadis
di antaranya hadis dari Ibnu 'Umar, ia berkata,
"Aku pernah bersama Rasulullah SAW, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, "Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?" Beliau bersabda, "Yang paling baik akhlaknya." "Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?", ia kembali bertanya. Beliau bersabda, "Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas." (HR. Ibnu Majah No. 4259).
Kematian
merupakan ujian bagi orang beriman dan Allah akan menilai siapakah diantara
hamba-hamba-Nya yang mampu mensikapi ujian tersebut dengan ahsanu ‘amala
(terbaik amalnya). Firman Allah SWT,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ
وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ
الْغَفُورُ
"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu,
siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun." (QS. Al Mulk: 2).
Dalam Tafsir
Al-Qurthubi disebutkan bahwa yang dimaksud yang paling baik amalnya adalah yang
paling banyak mengingat kematian dan yang yang paling baik persiapannya
menjelang kematian. Sebagai langkah
persiapan menuju kematian yang tentunya sebagai orang beriman bercita-cita
menggapai kematian yang husnul khotimah, maka menjadi suatu hal yang penting
untuk memahami adanya beberapa keutamaan dan mamfaat yang akan didapat dengan
mengingat kematian.
Berikut ini ada 5 mamfaat yang akan didapat dengan mengingat kematian yakni
1. Mengingat kematian adalah termasuk ibadah tersendiri yang berbuah pahala. Dengan mengingatnya saja seseorang telah mendapatkan pahala karena inilah yang diperintahkan oleh suri tauladan kita, Nabi Muhammad SAW.
2. Mengingat kematian mendorong kita khusyu' dalam shalat dan memperbagus amalan sholeh lainnya. Nabi SAW bersabda,
"Ingatlah
kematian dalam shalatmu karena jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya,
maka ia akan memperbagus salatnya. Shalatlah seperti shalat orang yang tidak
menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan salat yang lainnya.
Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya)
(karena tidak bisa memenuhinya)." (HR. Ad Dailami
)
4. Mengingat kematian akan termotivasi untuk memperbaiki hidup. Nabi SAW bersabda,
"Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu dengan dunia (sehingga lalai akan akhirat)." (HR. Ibnu Hibban dan Al Baihaqi)
5. Mengingat kematian mendorong untuk tidak berlaku zalim baik terhadap diri ataupun zalim terhadap orang lain. Karena menyadari betul bahwa kezaliman yang dilakukannya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah swt.
Demikianlah,
lima keutamaan dan mamfaat yang didapat dengan mengingat kematian. Semoga kita
termasuk hamba-Nya yang diberkan kemampuan untuk mengamalkannya dan mampu
mempersiapkan kematian dengan sebaik-baiknya, sehingga saatnya ajal kematian
tiba, kita semua diwafatkan dalam keadaan ber-Islam dan menggapai husnul
khatimah. Aamiin ya Robbal’alamiin..
(Disusun
dari berbagai sumber oleh : Yuyu Yuniawati, S.Ag, Penyuluh Agama Islam KUA
Kecamatan Mrebet Purbalingga)
Komentar
Posting Komentar