MENSIKAPI HADIRNYA MUHARAM YANG MULIA

 


MENSIKAPI HADIRNYA MUHARAM YANG MULIA


Alhamdulillah wa syukrulillah, ungkapan inilah yang semestinya terlontar dari lisan kita, di tengah banyaknya saudara-saudara kita yang terbaring sakit dan banyak pula yang  telah wafat menghadap Allah. Namun, atas ijin dan rahmat-Nya, Allah SWT masih memberikan nafas kehidupan kepada kita hingga detik ini. 

Imam al-Ghozali menyatakan bahwa ada dua rahasia mengapa Allah SWT memilih kita menjadi hamba-Nya yang diberi kesempatan bernafas hingga detik ini, yaitu : 

Rahasia pertama adalah Allah SWT sangat tahu bahwa dosa-dosa kita menggunung, sehingga kita diberi kesempatan untuk bertobat memohon ampun kepada-Nya. 

Rahasia kedua adalah Allah SWT sangat tahu bahwa bekal yang akan kita bawa menghadap-Nya masih jauh dari cukup, sehingga Allah SWT pun memberikan kita kesempatan untuk memamfaatkan sisa umur kita dengan memperbanyak amal kebaikan. 

Beberapa hari ke depan kita akan memasuki pergantian tahun baru Islam. Kita fahami bahwa awal tahun Hijriyah diawali dengan bulan Muharam yang termasuk pada salah satu dari empat bulan yang dimuliakan yang disebut dengan Arba'atun-Hurum ( empat bulan yang dimuliakan).  

Allah SWT berfirman,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِعِنْدَاللهِ اِثْنَاعَشَرَشَهْرًا فِيْ كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقِيِّمُ فَلاَ تَظْلِمُوْافِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ 

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram, itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya dirimu di bulan yang empat itu…” (Q.S. At-Taubah : 36)

 

Ayat ini menerangkan secara khusus tentang keutamaan yang ada di ke-4 bulan haram, bulan yang dimuliakan. Adapun ke-4 bulan mulia tersebut dijelaskan dalam hadits,  

اَلسَنَةُ اِثْنَاعَشَرَ شَهْراً، مِنْهَاأَرْبَعَةٌحُرُمٌ: ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُوالْقَعِدَةَ، وَذُوالْحِجَةَ وَالْمُحَرَمَ، وَرَجَبَ مُضَرَ الَذِيْ بَيْنَ جُمَادِى وَشَعْبَانَ

“Setahun ada 12 bulan, di antaranya terdapat 4 bulan haram: tiga bulan berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharam, dan (satu bulan sendiri yaitu) Rajab Mudhar yang berada di antara bulan Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Lalu bagaimana kita mensikapi hadirnya bulan Muharom yang mulia dan sarat dengan banyak keutamaan ini..?

Berikut ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam mensikapi hadirnya bulan Muharam yang mulia ini, diantaranya yaitu :

1.  Melakukan Muhasabah (Introspeksi Diri).

Adanya pergantian tahun mengingatkan kita bahwa jatah hidup kita di dunia ini semakin berkurang. Seorang ulama besar, Imam Hasan Al-Basri, mengatakan, ''Wahai anak Adam, sesungguhnya anda bagian dari hari, apabila satu hari berlalu, maka berlalu pulalah sebagian hidupmu”. Dengan makna ini, maka menjadi sebuah keniscayaan jika peristiwa pergantian tahun justru kita jadikan sebagai momentum untuk melakukan  muhasabah (evaluasi / instropeksi).  Karena muhasabah merupakan salah satu perintah Allah yang tercantum dalam surat Al-Hasyr [59] ayat 18,

يَا أَيُّهَا اَّلذِيْنَ آمَنُوْا اَّتقُوْا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوْا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

 

Tentang pentingnya muhasabah, Rasulullah SAW pun memerintahkan umatnya untuk bermuhasabah selagi Allah masih memberikan kesempatan hidup di dunia untuk memperbaiki diri dengan memperbanyak amal sholeh, sebelum kelak di hari akhir kita akan dihisab di hadapan Allah SWT. Hal ini beliau sampaikan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab, beliau bersabda,

حَاسِبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا، وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ

“Bermuhasabahlah (koreksilah) diri kalian sebelum kalian dihisab (di akhirat), dan berhiaslah (dengan amal shalih) untuk menghadapi hari yang agung (pada hari kiamat kelak)” (HR. Tirmidzi)


Bahkan Rasulullah SAW mengaitkan pentingnya muhasabah dengan kesuksesan, bahwa muhasabah itu menjadi modal untuk mencapai kesuksesan. Artinya jika seseorang ingin meraih kesuksesan dunia dan akhirat, maka satu hal yang harus dilakukan adalah pandai bermuhasabah atas apa yang telah dilakukan, sembari menghitung-hitung berapa banyak bekal yang akan dibawa kelak di hadapan Allah, sehingga akan termotivasi melakukan perbaikan diri, karena Rasululloh SAW telah memberikan rambu-rambu dan pilihan bagi kita yang tercantum dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hakim,

مَنْ كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًامِنْ اَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ مِثْلُ اَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ اَمْسِهِ فَهُوَ مَلْعُوْنٌ

“Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah yang tergolong orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, dialah yang tergolong orang yang merugi. Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, dialah yang tergolong orang yang tercela”.

 

 

2.     Menguatkan Kembali Semangat Hijrah

Hijrah yang dimaksud di sini adalah Hijrah Maknawi / Hijrah Qolbiyah yakni ”Berpindah / meninggalkan diri dari kebathilan menuju kebenaran, dari kemaksiyatan menuju ketaatan, dari nilai yang negatif menuju nilai yang positif”.  Ini menjadi sebuah keniscayaan bagi orang yang beriman dan menjadi sebuah konsep yang dapat diaplikasikan dalam setiap lini kehidupan demi meraih kualitas diri yang lebih baik, berdasarkan pada ayat ”Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah” (Q.S. Al-Muddatsir/74 : 5). Hal ini sesuai pula dengan makna Muhajir (orang yang berhijrah) yaitu :         

                                                                             اَلْمُهَاجِرُ : مَا هَجَرَ عَلَى مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ 

”Orang yang menjauhkan diri / meninggalkan dari apa-apa yang dilarang Allah”.

 

Betapa besar balasan Allah SWT bagi hamba-Nya yang berhijrah, salah satu balasan yang Allah berikan terdapat dalam surat At-Taubah [9] ayat 100,  

وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيم

“… Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”.

 

 

3.     Memperbanyak Amal Sholeh, terutama amalan sunnah. 

Ada beberapa amalan yang dapat kita lakukan di bulan Muharam yang mulia ini, diantaranya adalah amalan puasa sunah yang dijelaskan dalam beberapa hadits Rasulullah SAW berikut :

Hadits dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi SAW bersabda :

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ الله الْمُحَرَّمِ

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.”  (HR. Muslim)

 

Hadits Rasulullah SAW dari Abdullah bin Abbas r.a. yang menjelaskan tentang latar belakang disunahkannya puasa Asy-Syuro’ :

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المَدِيْنَةَ فَرَأَى اليَهُوْدَ تَصُوْمُ يَوْمَ عَاشُوْرَاء فَقَالَ:ماَ هَذَا؟ قَالُوْا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوْسَى. قَالَ: فَأَناَ أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْكُمْ. فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

“Tatkala Nabi SAW datang ke Madinah beliau melihat orang-orang Yahudi melakukan puasa di hari ‘Asyura. Beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam bertanya, “Hari apa ini?”. Orang-orang Yahudi menjawab, “Ini adalah hari baik, pada hari ini Allah selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa a.s. berpuasa pada hari ini. Nabi SAW bersabda, “Saya lebih berhak mengikuti Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya”. (HR Al Bukhari No. 1900)

 

Hadits dari Aisyah radiyallahu ‘anha, ia mengisahkan :

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانَ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَفْطَرَ

“Dahulu Rasulullah SAW memerintahkan untuk puasa di hari ‘Asyura. Dan ketika puasa Ramadhan diwajibkan, barangsiapa yang ingin (berpuasa di hari ‘Asyura) ia boleh berpuasa dan barangsiapa yang ingin (tidak berpuasa) ia boleh berbuka”. (HR Al Bukhari No 1897)

 

Hadits dari Abu Qatadah Al Anshari r.a. yang menjelaskan tentang keutamaan puasa Asy-Syuro’ (puasa di tanggal 10 Muharam)beliau mengatakan :

سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ فَقَالَ: كَفَّارَةُ سَنَةً

Nabi SAW ditanya tentang puasa Asyura’, kemudian beliau menjawab: “Puasa Asyura menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat.” (HR. Muslim dan Ahmad).

 

Tentang puasa Tasu’a (puasa di tanggal 9 Muharam) berdasarkan hadits dari Ibnu Abbas r.a, beliau menceritakan :  

  حِيْنَ صَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوْا: يَارَسُوْلَ الله أَنَّهُ يَوْمٌ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ اِنْ شَاءَ اللهُ تُعَظِّمُهُ الْيَهُوْدُ وَنَّصَارَى فَقَالَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى الله عَلَيْهِ صُمنَا الْيَوْمو التَّاسِعَ قَالَ: فَلَمْ يَأَتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura’ dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. Kemudian ada sahabat yang berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang Yahudi dan nasrani. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahun depan, kita akan berpuasa di tanggal sembilan.” Namun, belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah diwafatkan.” (HR. Al Bukhari)

 

Selain amalan puasa sunnah, tentu kita pun dapat memperbanyak amalan sunah lainnya, seperti sholat sunah, baik sholat sunah rowatib, sholat sunah tahajud, sholat sunah dhuha, memperbanyak dzikir, memperbanyak doa, memperbanyak tilawah al-Qur'an,  bersedekah kepada fakir miskin, anak-anak yatim, dan saudara-saudara kita yang  kesulitan. 

 

4.     Memperbanyak Istighfar dan Menjauhi Maksiyat.

Rasulullah SAW bersabda,

اَنِيْبُوْا اِلَى رَبِكُمْ وَاسْتَغْفِرُوْا مِنْ ذُنُوْبِكُمْ وَاجْتَنِبُوْاالْمَعَاصِى فِيْ شَهْرِ الْحَرَامِ

“Kembalilah engkau kepada Tuhanmu, mohonlah ampunan dari segala dosamu dan jauhilah segala kemaksiatan di bulan haram” .

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah meriwayatkan melalui sanadnya, dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan pengagungan Allah terhadap kesucian bulan-bulan ini, beliau berkata bahwa “Allah Ta’ala telah menjadikan bulan-bulan ini sebagai (bulan-bulan yang) suci, mengagungkan kehormatannya dan menjadikan perbuatan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan ini menjadi lebih besar dosanya, dan menjadikan amal shalih serta pahala pada bulan ini juga lebih besar pahalanya.”   


Demikian, semoga bermamfaat, dan semoga Allah mampukan kita mengamalkan petunjuk Allah SWT dan Rasulullah SAW dalam mensikapi hadirnya bulan Muharam ini, dengan harapan semoga kita tergolong hamba-Nya yang mampu meningkatkan kualitas diri dan kehidupan kita menjadi lebih baik, sehingga menjadi hamba-Nya yang beruntung, Aamiin.. Wallohua’lam Bish-Showab…


"Selamat Menyambut Tahun Baru Hijriyah"


( Disusun Oleh : Yuyu Yuniawati, S.Ag. / Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Kecamatan Mrebet Purbalingga / Majelis Tabligh PD 'Aisyiyah Purbalingga )

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMAHAMI KEMERDEKAAN SEBAGAI RAHMAT ALLAH SWT

Hidupkan 'Ruh' Ramadhan Demi Meraih Cinta-Nya

Kiat Sukses Menjalani Ramadhan