MUTIARA HATI
Diantara sunatulloh yang tidak pernah mengalami perubahan adalah perjalanan waktu yang selalu berjalan tanpa ada hentinya, tunduk dan patuh terhadap perintah Allah SWT. Perjalanan waktu dari detik ke menit, dari menit ke jam, dari jam ke hari, dari hari ke minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun dan akhirnya tanpa terasa tahun pun berganti. Setiap kita tentu mengalami pergantian tahun dan tentunya setiap tahun berganti, usia pun bertambah jumlahnya, namun justru pada hakikatnya usia kita semakin berkurang dari kontrak perjanjian (mu’ahadah) kita dengan Allah SWT. Dalam hal ini Imam Hasan Al-Basri, mengatakan,
”Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau
adalah bagian dari
hari.
Apabila satu hari berlalu, maka
berlalu pulalah sebagian hidupmu.”.
Menyimak
ungkapan tersebut, sungguh semakin jauh kita dari kelahiran dan semakin dekat
kita pada kematian. Karena memang setiap sesuatu memiliki ajal sebagaimana
Allah firmankan dalam al-Qur’an surat Al-A’rof ayat 34 :
وَلِكُلِّ
أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ
فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila
telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan
tidak dapat (pula) memajukannya. (Q.S.
Al-A’rof : 34).
Dengan makna seperti ini, menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk memanfaatkan pergantian tahun dengan melakukan muhasabah / evaluasi diri. Allah SWT berfirman :
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ
لِغَدٍ ۖ
وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ
إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
”Wahai orang-orang beriman bertakwalah kalian kepada
Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah disiapkan untuk
hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa-apa yang kalian kerjakan.” (QS Al-Hasyr/59: 18).
Khalifah Umar bin Khathab menyatakan,
”Hitunglah diri kalian sebelum kalian dihitung.
Timbanglah amal-amal kalian sebelum ditimbang. Bersiaplah untuk menghadapi hari
yang amat dahsyat. Pada hari itu segala sesuatu yang ada pada diri kalian
menjadi jelas, tidak ada yang tersembunyi.”
Dengan
mengingat hakikat waktu, kita akan semakin
hati-hati dalam memanfaatkan waktu yang tersedia. Karena waktu yang telah berlalu tidak akan pernah mungkin kembali. Maka dengan bertambahnya usia, perlu kita renungi untuk mendapatkan pelajaran (ibrah)
dalam rangka meningkatkan iman, ilmu,dan amal.
Berbicara tentang usia, ahli hikmah membedakan antara ’usia’
dan ’umur’. Usia memang selalu bertambah seiring berjalannya waktu, tetapi
umur belum tentu bertambah. Umur seseorang dikatakan bertambah apabila
waktu-waktu yang dilaluinya lebih banyak dipergunakan untuk hal-hal yang bertujuan
”memakmurkan jiwa”. Karena kata umur mempunyai akar kata yang
sama dengan makmur. Maka tanpa ada upaya yang maksimal untuk memakmurkan
jiwa, adanya perjalanan waktu dan pergantian tahun tidak otomatis menambah
umur.
Seorang yang diberi
jatah oleh Allah SWT hingga usia 60 tahun, belum tentu umurnya juga senilai 60
tahun jika di sepanjang hidupnya tidak ada upaya untuk memakmurkan jiwanya,
karena sepanjang tahun itu ia menjauh dari Allah yang telah memberinya
kehidupan.
Namun seorang
yang diberi jatah usia 30 tahun, dan di sepanjang hidupnya selalu berupaya
untuk memakmurkan jiwanya dengan menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi
larangan-Nya semaksimal mungkin, maka
ketika di usia ke-30 itu Allah memanggilnya, umurnya bisa mengungguli seorang
yang diberi jatah usia 60 tahun.
Terkait ini
Rasul SAW bersabda :
عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ رضي الله عنه أَنَّ أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ
اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ «مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ» رواه
الترمذى
“Dari
Abdullah bin Busr radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa ada seorang Arab
Badui berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai
Rasulullah, siapakah sebaik-baik manusia?” beliau menjawab: “Siapa yang
paling panjang umurnya dan baik amalannya.” (Hadits riwayat Tirmidzi)
Dengan memahami hal ini, semoga Allah SWT melimpahkan
nikmat kesadaran dalam diri kita bahwa diakui
atau tidak usia kita telah berkurang. Sementara investasi pahala untuk simpanan
hari akhirat masih sangat tipis, dibandingkan nikmat-nikmat Allah yang setiap desahan nafas selalu mengalir tiada henti.
Semestinya kita merasa malu dan rendah diri di hadapan
Allah, karena kita yang mengaku sebagai hamba-Nya, bisa jadi lupa
bersyukur kepada-Nya, bahkan mungkin kita lebih sering mengaktualisasaikan diri
kita sebagai hamba dunia, mungkin kita lebih banyak menyibukkan diri kita untuk
menginvestasi kepentingan dunia dari pada menginvestasi kepentingan akhirat. Padahal
sebagai orang yang beriman, semestinya investasi akhirat harus lebih kita utamakan
dari pada investasi dunia, karena akhirat itu sungguh
lebih baik dari dunia. Firman Allah,
وَاْلَاخِرَةُ خَيْرُ لَكَ مِنَ اْلأُوْلَى
“Dan sungguh yang akhir itu
lebih baik bagimu dari permulaan.” (QS Adh-Dhuha/93:4)
Menurut Imam Al-Thabari, yang dimaksud ‘Al-Akhirat’
dalam ayat di atas adalah ‘negri akhirat’, dan kata ‘Al-Ula’ bermakna ‘negeri
dunia’. Maka negeri akhirat adalah sebuah negri yang dijanjikan Allah lebih
baik dari dunia seisinya. Sebab itu tidak perlu sedih kehilangan dunia, karena
sesungguhnya yang Allah berikan kelak di akhirat itu jauh lebih baik.
(Al-Thabari/24:487).
Dengan datangnya
tahun baru 1443 Hijriyah ini, semoga kesadaran kita
untuk semangat dalam membangun kemegahan akhirat lebih kuat dari semangat untuk
membangun kemegahan dunia.
Wallohu ta’ala a’lam..
( Oleh : Yuyu Yuniawati, S.Ag.
/ Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Mrebet Purbalingga )
Menambah literasi semoga bisa bermanfaat
BalasHapusAlhamdulillah. Matursuwun
Hapus