PESAN DI BALIK CORONA
“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (Q.S Al-Baqoroh : 216)
Hampir dua tahun corona telah mewabah dan menjadi pandemi global dalam kehidupan umat manusia di bumi. Makhluk kecil yang tidak terlihat kasat mata ini mampu memunculkan ketakutan dan kecemasan. Bahkan mampu memporakporandakan berbagai sektor kehidupan banyak negara di belahan dunia. Termasuk di negara kita tercinta Indonesia dengan ditemukannya kasus pertama di awal Maret 2020 hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.
Menjalani hidup di dunia memang tidak akan lepas dari ujian. Apapun bentuk ujiannya, musibah, sakit, kematian, termasuk corona yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita saat ini. Siapa pun kita tentu tidak suka hal yang tidak menyenangkan ini terjadi. Sikap yang harus dikedepankan dalam situasi sulit ini adalah berusaha menahan diri untuk tidak berkeluh kesah, apalagi menyalahkan keadaan (takdir) dan berburuk sangka kepada Allah. Karena di balik terjadinya ujian dalam bentuk apapun, pastilah Allah hadirkan hikmah baiknya.
“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu." (Q.S Al-Baqoroh : 216)
Berbicara tentang corona, terlintas di benak kebanyakan kita sesuatu yang negatif. Dan memang banyak hal negatif yang dihasilkan oleh aksi dan sepak terjangnya yang secepat kilat mampu meluluhlantakkan dunia. Namun di balik negatifnya corona bagi kehidupan manusia, tersimpan sesuatu yang positif. Bisa jadi makhluk kecil ini sengaja Allah utus di bumi, menjalani titah-Nya sebagai pembawa pesan bagi manusia yang mau berfikir positif tentangnya.
Begitu cepatnya corona menyebar. Banyak yang sudah terpapar menjadi korban. Data di situs resmi Kementerian Kesehatan tanggal 15 Agustus 2021 mengabarkan bahwa korban yang terpapar secara nasional sudah menembus angka 3.854.354 jiwa. Banyak testimoni yang diungkapkan para penyintas covid-19, satu di antaranya mengatakan :
"Corona itu beneran nyata adanya. Seumur-umur saya enggak pernah mengalami anosmia, baru kemarin pas terpapar ngerasain sendiri penciuman dan rasa enggak berfungsi. Makan apapun terasa hambar, enggak ada rasanya"
Hal ini menjadi bukti dan menambah keyakinan kita bahwa corona ini memang nyata adanya, bukan mimpi, bukan pula sebuah konspirasi. Terlebih adanya 13 lembaga fatwa dunia termasuk ormas Islam terbesar di Indonesia (NU dan Muhammadiyah) yang menguatkan hal ini. Tidak ada satu pun di antara 13 lembaga tersebut yang mengaitkan pandemi ini dengan sebuah konspirasi.
Sungguh sangat prihatin dan sedih, saat masih saja ada yang tidak percaya dengan keberadaan corona, apalagi sampai menganggapnya sebagai sebuah konspirasi. Sementara tenaga kesehatan yang berjuang tak kenal lelah begitu kewalahan menangani korban yang terpapar. Sudah sangat banyak kerabat, saudara, teman, dan tetangga sekitar telah terpapar. Banyak pula di antara mereka yang tidak terselamatkan, mereka wafat terpapar corona.
Lebih menyedihkan lagi ketika tidak ada kesempatan untuk mengunjungi, bertakziah dan mendoakan saudara-saudara kita yang sakit dan wafat secara langsung, sebagaimana anjuran Sang Rasul Muhammad SAW dalam sebuah sabdanya,
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam, yaitu ”Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim)
Hanya dari kejauhan kita dapat menyampaikan untaian doa-doa terbaik dan spirit penyemangat jiwa bagi mereka, meski terasa kurang afdhol (utama). Dalam kondisi inilah melalui corona kita diingatkan betapa doa yang dipanjatkan dari kejauhan, justru menjadi doa yang lebih cepat dikabulkan Allah SWT. Hal ini disampaikan sahabat Abdullah bin Umar r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda,
“Doa yang paling cepat dikabulkan ialah doa seseorang bagi saudaranya, sedang diantara keduanya dalam kondisi berjauhan.” (HR Abu Daud dan Turmudzi).
Hadirnya corona memantik kita untuk saling mendoakan saudara-saudara seiman, yang dekat atau jauh, yang dikenal atau tidak dikenal, meski hanya dari kejauhan. Terlebih jika doa yang kita panjatkan itu dilakukan secara diam-diam, tanpa sepengetahuan yang didoakan. Sungguh ini akan memantik para malaikat memberikan doa serupa dan mengaminkannya. Kita yakini, doa malaikat itu pastilah akan dikabulkan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda,
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ، إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Tidak ada seorang hamba muslim yang berkenan mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan, kecuali malaikat mendoakan orang yang berdoa tersebut dengan kalimat ‘Dan engkau pun mendapat sama persis sebagaimana doa yang engkau ucapkan itu.” (HR Muslim).
Betapa mulia ajaran Sang Rasul Muhammad SAW. Mereka adalah saudara seiman yang mempunyai hak untuk didoakan, meskipun dari kejauhan. Inilah bentuk kepedulian sosial yang sejak pandemi melanda, banyak yang tergerak dan berempati untuk saling peduli. Indahnya ukhuwah, saling mendoakan, saling menguatkan, dan saling membantu satu dengan lainnya.
Ibarat satu tubuh, jika salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka sakitlah anggota tubuh lainnya. Yang sehat mendoakan saudaranya yang sakit sebagai wujud syukur atas karunia sehat yang Allah berikan, Yang sakit pun mendoakan saudaranya yang sehat sebagai wujud syukur atas karunia-Nya yang telah menggerakan saudara-saudaranya ikut berbagi dan peduli dengan kondisinya.
Sejak corona hadir di awal Maret 2020 sampai dengan tanggal 15 Agustus 2021, data di situs resmi Kementerian Kesehatan tercatat ada 117.588 jiwa yang wafat menjadi syuhada. Mereka wafat terpapar corona yang telah mewabah. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW mengabarkan kepada kita bahwa,
“Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal karena penyakit tha’un (wabah), orang yang meninggal karena penyakit perut, orang yang meninggal karena tenggelam, orang yang meninggal karena tertimpa reruntuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah,” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah r.a).
Corona yang telah merenggut ratusan ribu nyawa ini, secara tidak langsung membawa pesan. Bahwa kematian itu sangatlah dekat, mengintai siapapun, tak bisa dihindari meski bersembunyi di benteng yang tinggi dan kokoh ketika masa itu telah tiba.
“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah tiba waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. (Q.S. Al-A’rof : 34)
Update data banyaknya korban jiwa yang wafat karena corona, sungguh tidak semata bicara angka. Tapi bicara tentang hilangnya nyawa manusia yang dalam agama dipandang sebagai sesuatu yang prinsip, dan menjadi salah satu di antara lima maqosidu syari’ah (tujuan dalam hukum Islam), yaitu hifdzun-nafs (menjaga jiwa manusia). Betapa berharganya jiwa manusia, sehingga Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya,
وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا ۚ
“Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.” (Q.S. Al-Maidah : 32).
Demi terpeliharanya jiwa manusia, sungguh kita dipaksa untuk hidup berdampingan secara damai dengan corona, beradaptasi dengan kebiasaan baru. menjalani kehidupan new normal dengan kebiasaan menerapkan protokol kesehatan 5M yang telah digaungkan pemerintah. Corona membawa pesan tentang pentingnya 5M (Memakai masker, Menjaga jarak fisik, Mencuci tangan, Menghindari kerumunan, dan Membatasi mobilitas) sebagai bentuk ikhtiar lahiriyah.
Sebagai orang beriman tentu tidaklah cukup hanya dengan melakukan ikhtiar lahiriyah. Corona juga membawa pesan betapa pentingnya ikhtiar bathiniyah, protokol keimanan seperti yang telah disampaikan oleh para tokoh agama. Mengembalikan hadirnya corona ini kepada Sang Pencipta corona. Karena bisa jadi ia diutus sebagai pembawa peringatan dan penyampai pesan kebaikan untuk menyadarkan umat manusia, betapa lemah dan tidak berdayanya manusia di hadapan Allah SWT.
Maka kembali kepada-Nya dengan memperbanyak tobat, memperkuat doa dan meningkatkan ketaatan kepada-Nya menjadi sebuah keniscayaan. Berharap semoga ikhtiar bathiniyah ini menjadi pemantik dilimpahkannya penjagaan dan perlindungan dari segala keburukan dan kejahatan makhluk-Nya. Meski kita harus hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk Allah lainnya yang membahayakan, termasuk corona.
Wallohua’lam Bishowab
Purbalingga, 20 Agustus 2021 M / 11 Muharam 1443 H
(Oleh : Yuyu Yuniawati, S.Ag, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Mrebet Purbalingga)
Mantap
BalasHapus