TELAGA PENYUCI JIWA
TELAGA PENYUCI JIWA
Ibnu Qoyyim Al-Jauziah, mengatakan bahwa “Telah tersedia bagi orang-orang yang bergelimang dosa 3 telaga untuk mensucikan jiwa mereka di dunia. Seandainya mereka bersuci di dalamnya niscaya mereka akan disucikan dari lembah neraka jahanam. Tiga telaga itu adalah telaga tobat nasuha, telaga amal shaleh, dan telaga musibah”.
Ada ungkapan yang menyatakan bahwa Al-Insan mahal al-khatha’ wa an-nisyaan yang artinya bahwa manusia itu tempatnya salah dan lupa, karena memang kata “Insan” sendiri berasal dari kata “Nasiya” yang artinya lupa. Sehingga tidak ada seorang manusia pun yang luput dari perbuatan salah dan dosa kecuali para Nabi dan Rasul Allah yang ma’shum (terpelihara dari dosa).
Sebagai Insan yang beriman kita meyakini akan adanya kehidupan akhirat yang kekal abadi yang didalamnya hanya ada dua pilihan yakni syurga sebagai sebuah penghargaan (Reward) dan neraka sebagai sebuah hukuman (Funishment) dari Allah SWT atas segala apa yang telah kita lakukan sewaktu hidup di dunia yang fana. Ketika dihadapkan pada kedua pilihan itu, dapat dipastikan semua manusia yang meyakininya akan menjatuhkan pilihan ingin masuk syurga. Tidak ada seorang pun yang menjatuhkan pilihan masuk neraka meskipun sewaktu hidup di dunia banyak bergelimang dosa dan maksiyat.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa syurga adalah sebuah tempat suci yang tidak ada kekotoran walau sebesar dzaroh pun. Karenanya tidak ada yang dapat memasukinya kecuali hanyalah hamba-hamba Allah SWT yang berada dalam keadaan suci. Firman Allah SWT :
الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik (suci) dengan mengatakan (kepada mereka) : selamat sejahtera bagimu, masuklah ke dalam syurga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.S. An-Nahl : 32)
Berdasarkan ayat tersebut, maka yang layak mendapatkan salam penghormatan dari para malaikat dan menjadi penghuni syurga hanyalah manusia yang suci (Thoyyibiin) atau manusia-manusia yang telah disucikan dari segala kekotoran (dosa) yang menyelimutinya. Dengan demikian, seolah terdapat jarak yang membentang antara manusia di satu sisi dengan fitrahnya sebagai tempatnya salah dan lupa, dengan syurga di sisi lain yang mensyaratkan kesucian (Thoyyibiin) bagi yang ingin memasukinya.
Maka timbul pertanyaan di benak kita, bagaimana kita yang tak luput dari salah dan dosa ini bisa memasuki syurga?, Dengan apa jiwa kita dapat disucikan dari segala kekotoran (dosa) sehingga layak untuk menjadi penghuni syurga ?
Ibnu Qoyyim Al-Jauziah, mengatakan bahwa “Telah tersedia bagi orang-orang yang bergelimang dosa 3 telaga untuk mensucikan jiwa mereka di dunia. Seandainya mereka bersuci di dalamnya niscaya mereka akan disucikan dari lembah neraka jahanam. Tiga telaga itu adalah telaga tobat nasuha, telaga amal shaleh, dan telaga musibah”.
1. Telaga Taubat Nasuha.
Firman Allah SWT dalam surat At-Tahrim ayat 8 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan semurni-murninya taubat (tobat Nasuha), mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukanmu ke dalam syurga..” (QS At-Tahrim/66 : 8)
Imam Al-Ghozali mengatakan bahwa tobat harus dilakukan setiap saat, karena perilaku manusia yang tidak luput dari perbuatan salah dan dosa. Dan upaya untuk menyingkirkannya dilakukan dengan tobat nasuha dan memperbanyak Istighfar.
Imam Nawawi merumuskan adanya 4 rukun dalam sebuah tobat nasuha yang harus dipenuhi agar tobatnya dapat diterima oleh Allah, yaitu :
1. An-Nadam ; penyesalan mendalam atas perbuatan dosa yang telah dilakukan.
2. Al-‘Azmu ; berjanji untuk tidak mengulangi lagi perbuatan dosa yang telah dilakukan.
3. Al-Iqla’ ; bertekad untuk meninggalkan segala perbuatan dosa yang mengotori jiwa.
4. Al-Istighfar ; memohon ampunan kepada Allah
Dengan melakukan tobat nasuha dengan memenuhi ke-4 rukun tersebut, maka atas izin-Nya tobat kita akan diterima disisi Allah, dan Allah akan menghapus dosa dan kesalahan yang telah kita diperbuat.
2. Telaga Amal Shaleh
Kesungguhan taubat seorang hamba perlu adanya pembuktian, yakni dengan bertekad dan berusaha melakukan amal shaleh sebagai perwujudan dari keinginannya memperbaiki diri, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-An’am ayat 54 :
“Sesungguhnya barang siapa diantara kamu telah melakukan kejahatan disebabkan karena ketidaktahuannya, kemudian ia bertobat, dan ia melakukan perbaikan diri, maka ketahuilah sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Q.S. Al-An’am/6 : 54)
Dalam ayat lain Allah firmankan bahwa amal shaleh yang dilakukan itu akan menjadi penghapus terhadap amalan buruk yang pernah dilakukan. Firman Allah SWT :
…”Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu dapat menghapuskan kesalahan-kesalahan…” (Q.S. Hud/11 : 114)
Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah saw bersabda :
“Kerjakan kebaikan setelah keburukan, niscaya kebaikan itu menghapus dosanya”.
Maka yang penting untuk dilakukan adalah selalu berusaha untuk melakukan perbaikan diri dengan banyak mengerjakan amal shaleh, sehingga akan semakin menumbuhkan keimanan di hati dan dapat menyucikan jiwa yang sebelumnya telah terkotori. Maka amalan-amalan baiknya itu bagaikan tungku pemanas yang akan meleburkan dosa yang telah dikerjakan.
3. Telaga Musibah
Allah dengan belas kasih-Nya, menurunkan ujian dengan mendatangkan berbagai penderitaan dan musibah. Jika seorang hamba dapat menyikapinya dengan benar, dengan bersikap sabar, ikhlas dan berprasangka baik akan ketetapan Allah SWT,.maka akan menjadi tungku pelebur dosa antara dirinya dengan Allah SWT.
Al-Qur’an menyebut kata sabar lebih dari 70 tempat (ayat), diantaranya adalah :
وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan sesungguhnya kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. (Q.S. An-Nahl/16 : 96)
Dalam sebuah hadits Qudsy Allah SWT berfirman :
“Apabila Aku timpakan kepada seorang hamba-Ku suatu musibah pada dirinya, hartanya atau anaknya, kemudian ia menghadapinya dengan penuh kesabaran, maka Aku merasa malu padanya pada hari kiamat untuk memasang timbangan amalnya atau membentangkan buku catatan amalnya”.
Lebih jelas lagi, Nabi saw bersabda dalam salah satu haditsnya bahwa :
“Tidaklah ada kelelahan, rasa sakit, kekhawatiran, gangguan dan kesusahan yang diderita seorang muslim, bahkan sampai duri yang menancap di tubuhnya, melainkan Allah akan menjadikannya sebagai penggugur sebagian dosa-dosanya”. (H.R. Bukhori dan Muslim)
Demikianlah, tiga telaga yang menurut Ibnu Qoyim Al-Jauziyah akan menjadi penyuci jiwa manusia yang selalu bergelimang dosa. Maka, marilah kita jadikan ke-tiga telaga tersebut sebagai sarana untuk menyucikan jiwa kita dari segala kekotoran, sebagai ikhtiar agar kita menjadi manusia yang baik (suci), berbanding lurus dengan keadaan syurga yang juga suci. Semoga saatnya nanti kita akan mendapatkan salam penghormatan dari malaikat dan dapat memasuki syurga-Nya.. Aamiin..
( Disusun oleh : Yuyu Yuniawati, S.Ag / Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Mrebet Purbalingga )
Komentar
Posting Komentar