KETIKA TRAUMA BERMUARA CINTA

 


KETIKA TRAUMA BERMUARA CINTA

“Diutuslah kepadanya seorang malaikat, lalu ditiupkan ruh padanya.

Dan dia diperintahkan untuk menetapkan 4 perkara, yaitu :

menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan kecelakaan atau kebahagiaannya”.

[HR. Bukhari dan Muslim]

 

Setiap makhluk yang ada di alam raya ini diciptakan berpasang-pasangan sebagaimana Allah firmankan dalam surat Adz-Dzariyat ayat 49, "Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah)". Ada langit ada bumi, ada siang ada malam, ada matahari ada bulan. Begitupun manusia, ada laki-laki ada perempuan, masing-masing telah Allah tetapkan pasangan hidupnya sejak di lauhul-mahfudz. Sebagaimana hadits di atas, bahwa rizki, ajal, amal dan kondisi manusia telah Allah tetapkan sejak ditiupkannya ruh. Jodoh merupakan bagian dari rizki, karenanya menjadi rahasia dan misteri Illahi. Tidak ada seorang pun yang mengetahui pasti, siapa jodohnya kelak, kapan dan dimana Allah pertemukan. Manusia hanya diberikan kebebasan terbatas dalam berikhtiar menjemput, sembari memperkuat dengan doa agar tiba saatnya nanti Allah mempertemukan dengan jodohnya.

Begitu pun dengan diriku, tidak pernah terbayang siapa gerangan lelaki yang akan menjadi pasangan hidupku. Secara kebetulan, kakak dari ibuku (uwa) dan adik dari ayahku (bibi) yang bersuami seorang lelaki bersuku Jawa, kehidupan rumah tangga keduanya tidak berjalan mulus dan berakhir dengan perceraian. Menyaksikan potret buram kegagalan berumah tangga yang dialami keduanya, sempat terlintas di benakku “Jangan sampai kelak aku bersuami lelaki bersuku Jawa”.  

Seiring berjalannya waktu, Allah justru mempertemukanku dengan seorang lelaki bersuku Jawa yang kini menjadi suamiku. Sempat terjadi pergolakan batin saat menjalin hubungan dengannya. Aku khawatir mengalami hal serupa dengan uwa dan bibiku, khawatir mahligai pernikahanku kelak akan runtuh seperti yang dialami keduanya. Namun, aku sadari bahwa adanya berbagai perbedaan, termasuk berbeda suku seperti yang dialami uwa dan bibiku, bukanlah faktor penentu runtuhnya mahligai rumah tangga. Karena yang lebih menentukan adalah diriku sendiri dalam mensikapi dinamika kehidupan. Ada ungkapan “Al-ikhtilafu rohmatun”, perbedaan itu adalah rahmat. Artinya perbedaan yang ada justru akan memperkaya khazanah dinamika kehidupan berumah tangga jika mampu mensikapi dan mengelolanya dengan tepat.

Masa kecil kulewati dengan penuh bahagia sebagaimana anak-anak pada umumnya. Bermain, mengaji dan bersekolah menjadi rutinitas harianku. Bahkan membantu ibuku mengerjakan pekerjaan rumah tangga juga menjadi rutinitas pagiku sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Kondisi ibuku yang bekerja sebagai PNS menuntutnya untuk berangkat pagi. Sementara ayahku bekerja merantau ke luar kota dan baru bisa pulang setelah beberapa bulan kemudian. Ketika pulang pun hanya beberapa hari di rumah. Setelah dirasa cukup melepas rindu pada istri dan anak-anak, ayah pun kembali mencari maisyah ke luar kota. Praktis interaksi ayah denganku dan keluarga sangatlah minim. Masa kecilku terasa jauh dari belaian kasih sayang seorang ayah.

Benarlah ungkapan seorang psikolog di salah satu website yang pernah kubaca bahwa peristiwa yang terjadi di masa kecil itu akan berpengaruh dalam mengarungi kehidupan di fase selanjutnya, meskipun telah lama berlalu akan terekam kuat di memori otak, sangat membekas, terpatri dalam benak dan terwujud dalam sifat atau karakter. Demikian pula dengan diriku yang pernah menyaksikan peristiwa pahit di masa kecilku ternyata sangat berpengaruh dalam menapaki fase kehidupanku selanjutnya.

Suatu saat, tanpa sengaja, aku pernah menyaksikan pertengkaran ayah dan ibu, nada suara ayah cukup keras dan aku sempat melihat tangannya yang kekar mendarat di tubuh ibuku. Terlihat ibu hanya bisa diam tidak berani melawan. Menyaksikan peristiwa pahit itu aku hanya bisa diam membisu dan ketakutan di sudut ruangan. Bagi orang tua peristiwa ini merupakan hal yang biasa terjadi sebagai bagian dari dinamika kehidupan berumah tangga. Namun bagiku yang masih belum memahami arti sebuah dinamika, peristiwa itu sangat membekas dalam ingatan dan kehidupanku. Trauma dan rasa takut pada sosok lelaki tumbuh di relung-relung hatiku. Stigma negatif tercipta di benakku dengan menganggap semua laki-laki itu kasar terhadap perempuan yang lemah. Hal ini sangat berpengaruh dan terus terbawa menghantui kehidupanku.

Saat tiba masa remaja, wajar jika sudah mulai ada rasa senang pada lawan jenis. Ada rasa bahagia di relung hati jika ada teman lelaki yang memberi perhatian. Namun rasa itu terkalahkan dengan trauma dan rasa takutku yang berlebihan. Aku takut akan mengalami perlakuan kasar jika menjalin hubungan dengan mereka. Karena trauma dan rasa takut yang berlebihan inilah, aku tumbuh menjadi seorang remaja putri yang meskipun secara akademik mampu bersaing, namun berkarakter pendiam, sulit bergaul, kurang percaya diri dan cenderung menutup diri. Akibat trauma dan takut berlebihan ini, aku pun menutup pintu hatiku untuk siapapun teman lelaki yang hadir dalam hidupku. Indahnya masa remaja kulewati tanpa pernah mengalami apa yang disebut dengan pacaran. Tidak kualami cinta pertama atau cinta monyet di masa remaja ku.

Terlebih saat bersekolah di Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Pondok Pesantren Darussalam Ciamis yang memisahkan antara siswa laki-laki dan perempuan, semakin menutup ruang untuk berhubungan dengan laki-laki. Ternyata di balik trauma dan rasa takutku pada sosok lelaki tersimpan hikmah baik untuk diriku. Tidak ada dalam kamusku untuk pacaran selama aku sekolah. “Pantang pacaran sebelum sukses belajar”. Inilah moto hidup yang selaras dengan kondisi psikisku saat itu.

Lulus dari MAPK Darussalam, aku melanjutkan kuliah di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Seiring dengan perubahan kehidupan kampus yang sangat berbeda dengan kehidupan pesantren, cara pandang dan sikapku terhadap teman lelaki mulai berubah. Meskipun aku masih belum bisa enjoy dalam berinteraksi, bergaul dan bercanda ria dengan mereka, apalagi membuka hati untuk mereka. Namun aku harus mampu beradaptasi dengan kondisi yang sungguh berbeda. Trauma dan rasa takutku yang berlebihan terhadap lelaki pun perlahan mulai terkikis, seiring dengan bertambahnya referensi keilmuan, sehingga menambah kedewasaanku dalam berfikir dan bertindak.

Aku pun mulai membuka hati untuk seorang yang kini menjadi suamiku, Syarifudin namanya, seorang lelaki bersuku Jawa. Pertemuanku dengannya bermula dari sebuah kelompok belajar. Seringnya berkumpul, berinteraksi dan belajar bersama, aku melihatnya berbeda dengan kebanyakan teman lelaki yang kukenal. Sederhana, dewasa, penyabar, serius menjalani hidup, tidak banyak bercanda, karakter ini yang ada pada dirinya. Satu hal yang aku kagumi, ia tidak bergantung sepenuhnya pada orang tua. Ia menjalani kuliah sambil berjualan kaligrafi yang dibuatnya di sela-sela kekosongan jadwal kuliah. Namun kerasnya hidup yang ia jalani tidak sekeras tutur kata dan sikapnya. Aku simpati pada karakternya terlebih tutur katanya saat berbicara, seakan mematahkan anggapanku selama ini, bahwa tidak semua lelaki bersikap keras dan kasar. Rasa simpatiku berbalas perhatian. Ya, aku merasakan perlakuan yang berbeda darinya. Selalu ada saja alasan untuk berkunjung ke tempat kostku di luar jam perkuliahan dan di luar waktu belajar kelompok. Pinjam buku lah, pinjam mesin ketik lah, menawarkan hasil karya kaligrafinya lah dan alasan lainnya yang membuatku geer dibuatnya. Hal ini menumbuhkan perasaan lain di sudut hatiku. Namun aku ragu mungkin ini hanya perasaanku saja, aku takut bertepuk sebelah tangan.

Memasuki tahun ke-dua kuliah, hubungan pertemanan melalui kelompok belajar mulai pudar seiring dengan padatnya kesibukan kuliah dan aktifitas masing-masing. Begitupun dengan interaksiku dengannya, terlebih jurusan yang diambil berbeda meski sama-sama di fakultas Syari’ah. Waktu terus berjalan, tidak ada kepastian dan komitmen terucap dalam hubunganku dengannya. Rentang waktu itu, ada lelaki lain yang hadir dalam kehidupanku dan berani mengutarakan isi hatinya padaku. Bahkan ada kakak tingkatku yang sudah selesai skripsi memintaku serius menjalani hubungan dan sangat berharap aku bisa mendampinginya saat wisuda. Namun sepertinya rasa yang tumbuh di hatiku ini tak bisa berpindah ke lain hati.

Masa praktek Kuliah Kerja Nyata (KKN) di tahun ke-3 menguatkan jalinan hubunganku dengannya. Rasa kaget bercampur bahagia, saat membaca informasi di papan pengumuman, namaku dan namanya ada di satu kelompok. Ya, aku dan dia sama-sama ditempatkan di Desa Bantarwaru Kecamatan Haurgeulis Kabupaten Indramayu. Ternyata sekelompoknya aku dengannya bukan karena kebetulan, tapi berkat perjuangannya membujuk petugas. Suatu hari, dia berterus terang padaku tentang ini, dia khawatir aku terlibat cinta lokasi dan terpikat lelaki lain saat menjalani KKN. Benih-benih cinta kembali hadir di relung-relung hati. Terjawab sudah keraguanku selama ini. Ternyata aku dan dia merasakan hal yang sama. Sama-sama saling mencintai, namun ragu atas apa yang dirasa, khawatir cinta tak berbalas, takut cinta bertepuk sebelah tangan.

Masa KKN semakin menguatkan cinta antara aku dan dia. Untuk pertama kalinya aku merasakan getar-getar cinta pada sosok lelaki. Tak henti lisanku mengucap syukur Alhamdulillah atas karunia-Nya yang indah ini. Pada akhirnya belenggu trauma dan ketakutan berlebihan pada sosok lelaki pun sirna. Atas ridho-Nya akhirnya aku bisa membuka hati yang selama ini tertutup rapat.

“Inilah saat ketika trauma bermuara cinta”, aku bergumam dalam hati sembari memohon pada Sang Illahi, “Ya Robbi, semoga dialah cinta pertama dan terakhir bagiku yang akan menjadi imamku”.

 Di tahun ke-4 setelah saling menyemangati untuk segera menyelesaikan skripsi. Atas ijin-Nya, kami pun menjalani wisuda di waktu yang sama, sebuah moment yang membahagiakan. Namun saat itu, belum ada keberanian untuk saling mengenalkan pada keluarga masing-masing. Kami pun hanya bisa saling menyapa sekedarnya saja seolah tidak ada sesuatu yang spesial di antara kami.

Pasca wisuda kami tidak pulang kampung, tapi sama-sama mencari pengalaman kerja di Bandung. Suatu hari, untuk membuang kepenatan, aku, dia dan beberapa teman seangkatan yang kebetulan berada di Bandung, berkumpul dan pergi berwisata. Menjelang waktu isya ia mengantarkanku sampai di tempat kost. Aku kaget ketika melihat pintu kamar kostku terbuka. Ternyata ayahku sudah berada didalam menungguku sejak sore. Ayah yang saat itu hendak pulang sengaja menjengukku terlebih dahulu. Inilah mungkin skenario Allah. Dia pun tak bisa menghindar dan memilih untuk menunjukkan sikap tanggungjawabnya dengan memberanikan diri menyatakan keseriusannya denganku. Ayah pun merestui dan berpesan untuk bersegera melamarku. Tidak berselang lama setelah pertemuan yang tidak sengaja ini, ia bersama orang tuanya datang menemui orang tua ku untuk melamarku.

Hari libur tahun baru Islam, 01 Muharam 1420 H / 17 April 1999 M menjadi moment bahagia kami. Pernikahan dilaksanakan dengan penuh kesederhanaan, cukup dengan prosesi ijab kabul dan tasyakur keluarga, mengingat kakak perempuanku saat itu belum menikah. Pilihan tanggal 01 Muharom sebagai hari pernikahan kami, seolah mendobrak mitos dan tradisi Jawa yang menganggap Muharom sebagai pantangan yang jika dilanggar akan melahirkan keburukan. Suamiku yang kini berprofesi sebagai penghulu menjadi pelaku sejarah. Betapa Allah telah menciptakan semua waktu itu baik semuanya. Rasulullah SAW pun telah mengabarkan larangan mencela waktu dalam hadis qudsi yang diriwayatkan sahabat Abu Hurairah r.a. bahwa Allah SWT berfirman, “Aku disakiti oleh anak Adam, dia mencela waktu, padahal Aku lah pengatur waktu, Aku lah yang membolak-balikan malam dan siang”. (H.R. Muslim)

Alhamdulillah, 22 tahun sudah kami membangun mahligai rumah tangga dengan berbagai pernak-pernik dan dinamika. Allah SWT hadirkan amanah 2 buah hati sekaligus (kembar) dalam rahimku yang lahir pada 27 Agustus 2001. Saat ini ke-duanya sedang menempuh pendidikan di tempat yang jauh. Putra pertama kami, Muhammad Rifani Azka, diterima di International University Of Afrika di Khortoum Sudan. Saudara kembarnya, Muhammad Rifani Azhar, diterima di Bandirma Onyedi Eylul University Turkiye. Tanggal 03 Agustus 2005, lahir putri kami, Najah Fadhilah Rifani Putri  namanya. Saat ini sedang menimba ilmu di Madrasah Aliyah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat. Mereka lah kini penyemangat hidup kami, sekaligus tolak ukur keberhasilan kami dalam memikul tanggungjawab sebagai orang tua untuk mengantarkan mereka menuju gerbang kesuksesan dunia dan akhirat.

Besar harapan, semoga rentetan sejarah yang telah terukir dalam kehidupan kami menjadi pemantik untuk melanjutkan goresan sejarah berikutnya yang lebih baik. Tidak hanya bermuara pada kebahagian dunia semata, namun menjadi wasilah bermuaranya cinta keluarga kami kelak di hamparan surga-Nya.


(Purbalingga, 28 September 2021 M / 21 Shofar 1443 H)

Tulisan ini dimuat dalam Buku Antologi "Love Stories" (Antologi Kisah Kasih Sejoli Menjemput Cinta), Terbit Oktober 2021



Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMAHAMI KEMERDEKAAN SEBAGAI RAHMAT ALLAH SWT

Hidupkan 'Ruh' Ramadhan Demi Meraih Cinta-Nya

Kiat Sukses Menjalani Ramadhan