REFLEKSI AKHIR TAHUN, MEMAKNAI HAKIKAT WAKTU
Di antara
sunatulloh yang tidak pernah mengalami perubahan adalah perjalanan waktu yang
selalu berjalan tanpa henti, tunduk dan patuh pada perintah Sang Pencipta waktu Allah
SWT. Perjalanan waktu dari detik ke menit, dari menit ke jam, dari jam ke hari,
hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun dan akhirnya tanpa
terasa tahun pun berganti. Tahun 1443 H sebentar lagi akan kita tinggalkan dan tahun 1444 akan
segera hadir.
Imam al-Ghozali mengatakan bahwa "Waktu adalah kehidupan. Karenanya, kepiawaian dalam memamfaatkan waktu menjadi salah satu dari indikasi keimanan dan ketaqwaan seorang muslim. Seorang muslim yang memahami dan menyadari betapa pentingnya waktu, maka ia pun akan memahami dan menyadari nilai hidup dan kebahagiaan sehingga selalu bersungguh-sungguh dalam memamfaatkan waktu hidupnya di dunia. Sebaliknya seorang muslim yang tidak memahami dan menyadari pentingnya waktu, akan membiarkan waktu terbuang begitu saja, beranggapan jika esok masih ada waktu, padahal waktu tidak pernah datang untuk kedua kalinya. Maka ia seakan-akan hidup dalam keadaan mati".
Hal
ini Allah SWT gambarkan dalam ayat-Nya.
''Allah bertanya, berapa tahunkah lamanya engkau
tinggal di bumi? Mereka menjawab, kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah
hari, maka tanyalah kepada orang-orang yang menghitung.''
(QS Al-Mu'minun (23) : 112 - 113).
Dari ayat ini dapat difahami bahwa orang-orang yang tidak memahami pentingnya waktu kelak di akhirat akan merasakan bahwa waktu hidupnya saat di dunia hanya sehari atau setengaah hari saja. Ini disebabkan karena mereka tidak memahami makna umur, tidak mampu menguasai dan mengisinya dengan berbagai aktifitas yang bermamfaat, sehingga cenderung lebih banyak menyia’nyiakan waktu.
Hal ini sebagaimana
disampaikan Ibnu Qoyyim al-Jauziyah bahwa kondisi seperti itu karena mereka
lebih memperioritaskan kepentingan dunia dibanding akhiratnya, mereka terlalu
percaya diri bahwa usianya masih sangat panjang, sehingga lalai dan membiarkan
waktunya terbuang tanpa meninggalkan atsar kebaikan.
Dengan mengingat hakikat waktu, kita akan semakin berhati-hati dalam memanfaatkan waktu yang tersedia. Karena waktu yang telah berlalu tidak akan
pernah mungkin kembali. Saat ajal datang menghampiri, kita bisa mengelak, tak
ada seorangpun yang bisa meminta untuk ditangguhkan sebagaimana firman-Nya, "Setiap
umat memiliki ajal, bila tiba ajal mereka, maka tidak bisa minta mundur dan
tidak bisa minta maju." (Q.S al-A'raf : 34).
Maka hadirnya pergantian tahun yang merupakan bagian dari waktu, sejatinya kita renungi untuk mendapatkan pelajaran (ibrah) dalam rangka meningkatkan iman, ilmu, dan amal. Sebagai renungan di akhir tahun, marilah kita mengingat kembali apakah bergantinya tahun berbanding lurus dengan bertambahnya usia dan umur kita. Karena para ulama membedakan antara usia dan umur.
Imam Hasan
Al-Basri, mengatakan,
”Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah bagian dari
hari, apabila satu hari berlalu, maka berlalu pulalah sebagian hidupmu.”.
Ungkapan
tersebut menunjukkan bahwa
semakin jauh kita dari kelahiran maka semakin dekat kita pada kematian. Artinya dengan adanya pergantian tahun ini usia kita memang semakin bertambah,
namun justru pada hakikatnya usia kita semakin berkurang dari kontrak
perjanjian dengan Allah SWT. Karena sesungguhnya rizki,
ajal, amal dan kondisi manusia telah Allah tetapkan sejak ditiupkannya ruh sebagaimana tercermin dalam hadis,
“Diutuslah
kepadanya seorang malaikat, lalu ditiupkan ruh padanya, dan dia diperintahkan untuk
menetapkan 4 perkara, yaitu menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya, dan
kecelakaan atau kebahagiaannya”. [HR. Bukhari dan Muslim]
Berbicara tentang
usia ahli hikmah membedakan antara ’usia’ dan ’umur’. Usia memang selalu
bertambah seiring berjalannya waktu, tetapi umur belum tentu bertambah. Umur
seseorang dikatakan bertambah apabila waktu-waktu yang dilaluinya lebih banyak
dipergunakan untuk hal-hal yang bertujuan ”memakmurkan jiwa”. Karena
kata umur mempunyai akar kata yang sama dengan makmur. Maka
tanpa ada upaya yang maksimal untuk memakmurkan jiwa, adanya perjalanan
waktu dan pergantian tahun tidak otomatis menambah umur.
Seorang yang diberi jatah hidup oleh Allah SWT selama 60 tahun, belum tentu umurnya juga senilai 60 tahun jika di sepanjang hidupnya tidak ada upaya untuk memakmurkan jiwanya, karena sepanjang tahun itu ia menjauh dari Allah yang telah memberinya kehidupan. Namun seorang yang diberi jatah usia 30 tahun, dan di sepanjang hidupnya selalu berupaya untuk memakmurkan jiwanya dengan bersungguh-sungguh menjalankan ketaatan kepada Allah semaksimal mungkin, maka ketika di usia ke-30 itu Allah memanggilnya, umurnya bisa mengungguli seorang yang diberi jatah usia 60 tahun.
Terkait ini Rasul SAW
bersabda :
“Sebaik-baik manusia ialah yang
panjang umurnya dan baik amal perbuatannya, sedangkan seburuk-buruk manusia
adalah yang panjang umurnya tetapi buruk amal perbuatannya.” (HR Tirmidzi).
Dengan memahami hal ini, semoga Allah SWT
melimpahkan nikmat kesadaran dalam diri kita bahwa diakui
atau tidak usia kita telah berkurang. Sementara investasi pahala untuk simpanan
hari akhirat bisa jadi masih sangat
sedikit, dibandingkan dengan melimpah ruahnya nikmat Allah yang setiap desahan nafas selalu mengalir tiada henti. Semestinya kita merasa malu dan rendah diri di
hadapan Allah, karena kita yang mengaku sebagai hamba-Nya yang telah menikmati
limpahan rahmat dan nikmat-Nya lupa bersyukur kepada-Nya, bahkan mungkin kita lebih
sering mengaktualisasaikan diri kita sebagai hamba dunia, mungkin kita lebih
banyak menyibukkan diri kita untuk menginvestasi kepentingan dunia daripada menginvestasi
kepentingan akhirat.
Sejatinya sebagai orang yang beriman, investasi akhirat harus lebih kita utamakan dari pada investasi dunia. Mengapa?
Karena “wal akhirotu khoirul laka minal-ula”, artinya “Dan sungguh yang akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan” (Q.S. Adh-Dhuha/93 : 4).
Ulama tafsir memberikan penjelasan bahwa yang dimaksud dengan ”yang akhir”
adalah kehidupan akhirat, dan ”permulaan” adalah kehidupan dunia. Kita yakini
bahwa akhirat adalah tempat yang kekal abadi, tempat
kembali hidup setelah dimatikan, tempat untuk mempertanggungjawabkan segala
yang telah kita perbuat sewaktu hidup di dunia.
Dengan hadirnya tahun
baru dan memahami makna antara usia dan umur
ini, semoga kesadaran kita untuk semangat dalam memakmurkan
jiwa dengan membangun kemegahan akhirat lebih kuat dari semangat
membangun kemegahan dunia demi meraih kebahagiaan
hakiki kelak di akhirat sebagaimana yang diharapkan.
Wallohua’lam Bishowab..
(Oleh : Yuyu Yuniawati, S.Ag. / Penyuluh Agama Islam Fungsional KUA Kecamatan Mrebet Purbalingga / Majelis Tabligh PD 'Aisyiyah Purbalingga)
Komentar
Posting Komentar