RAIH SUKSES DENGAN SEMANGAT HIJRAH
Hadirnya bulan Muharam dalam kalender
Hijriyah yang menandai adanya pergantian tahun baru Hijriyah mengingatkan kita
pada peristiwa spektakuler yang pernah terjadi dalam sejarah Islam yakni
peristiwa ”Hijrah” yang dialami Rasulullah SAW. Sejarah
membuktikan bahwa hijrah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabatnya dalam menyebarluaskan risalah Islam. Berubahnya nama kota ‘Yastrib’ menjadi ‘Madinah’
sebagai bagian dari hijrah menjadi titik awal terbitnya fajar baru peradaban
Islam, dan menjadi tonggak awal suksesnya dakwah lslam. Terbukti sejak
peristiwa itu keberhasilan demi keberhasilan dapat diraih, baik keberhasilan
menyebarkan risalah, membangun masyarakat, maupun tegak berdirinya sebuah negara Islam dengan pondasi moral yang sangat kokoh.
Secara
literal, ”Hijrah” berasal dari kata ”hajara”. Dalam Al-Mu’jam
Al-Wasith dinyatakan bahwa : hajara berarti ”Taraka min makan ila
makan” (berpindah dari satu tempat
ke tempat lain, dalam arti fisik), atau keluar dari wilayah kafir (darl al-kuffar)
menuju wilayah iman (dar al-iman) seperti hijrahnya Rasulullah SAW dari
Mekah ke Madinah.
Adapun pengertian hijrah
secara terminologi, mengandung dua makna, yaitu
1.
Hijrah makani ; maksud dari hijrah makani adalah berpindah secara fisik dari suatu
tempat yang kurang baik menuju tempat yang lebih baik.
2. Hijrah maknawi ; maksud hijrah maknawi artinya
berpindah dari nilai yang kurang baik menuju nilai yang lebih baik, dari
kebathilan menuju kebenaran, dari kemaksiyatan menuju ketaatan, dari meninggalkan keinginan yang rendah dan moralitas
yang buruk menuju kehidupan yang lebih religius dan berakhlakul-karimah, dari gelapnya
kekufuran menuju cahaya Islam.
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyatakan bahwa hijrah
maknawi itulah hakikat hijrah yang sesungguhnya (hijrah haqiqiyyah).
Beliau beralasan bahwa hijrah makani adalah refleksi dari hijrah
maknawi itu sendiri. Dua makna hijrah tersebut sekaligus terangkum dalam
hijrah Rasulullah saw dan para sahabatnya. Secara makani
jelas mereka hijrah dari Makkah ke Madinah menempuh padang pasir sejauh kurang
lebih 450 km. Dan secara maknawi jelas
mereka hijrah demi tersyiarnya misi
Islam.
Hijrah merupakan sebuah upaya untuk membuat perubahan. Dan
sesunggguhnya inti dari peringatan tahun baru Hijriah adalah pada soal
perubahan. Maka ada baiknya momen pergantian tahun Hijriyah ini kita jadikan
sebagai momentum untuk merubah diri menjadi lebih baik yang tidak ada balasan
lain kecuali keberuntungan sebagaimana sabda Rasul SAW,
مَنۡ كَانَ يَوۡمُهُ
خَيۡرًا مِنۡ اَمۡسِهِ فَهُوَ رَابِحُ. وَمَنۡ كَانَ يَوۡمُهُ مثل اَمۡسه فهو
مَغۡبُون. ومَن كان يومه شَرًّا مِنۡ امسه فهو مَلۡعُون
“Barangsiapa yang hari ini
lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa
yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa
yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”
Meskipun hadits tersebut dinilai oleh para ahli hadits hadits sebagai hadits dhoif (lemah) bahkan ada yang tidak memasukannya sebagai sebuah hadits. Namun melihat kandungan isinya, maka tidak ada salahnya untuk mengambil hal positif di dalamnya dan menjadikannya sebagai motivasi dalam menjalani hari-hari dalam kehidupan agar menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.
Adanya momentum tahun baru Hijriyah ini, harus menjadi inspirasi sekaligus
motivasi bagi kita untuk terus membangkitkan
semangat berhijrah (semangat melakukan perubahan) menuju kehidupan yang lebih baik. Karenanya hijrah bagi seorang muslim adalah sebuah keniscayaan yakni dengan
meningkatkan semangat dan kesungguhan dalam menjalankan
berbagai aktifitas dan amanah, dalam beribadah, dalam meninggalkan berbagai bentuk virus kemaksiatan menuju
ketaatan, dari kebodohan menuju peningkatan
ilmu, dari kemiskinan menuju kecukupan
secara ekonomi dan seterusnya.
Berbeda
dengan perubahan suatu benda yang semakin
usang karena dimakan usia, terlebih jika tanpa adanya
campur tangan manusia yang memeliharanya. Maka perubahan
perilaku manusia tidak terjadi dengan sendirinya, namun memerlukan proses yang dimulai dengan niat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ
بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى
اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ
هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى
مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan
seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada
Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang
siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya,
maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat
imam Ahli Hadits
Ketika NIAT sudah terpatri kuat dalam
hati dan fikiran kita untuk melakukan suatu perubahan, dibarengi adanya IKHTIAR
untuk terus melakukan perubahan demi perubahan ke arah yang lebih baik, meski ikhtiar
dalam bentuk aksi nyata (ACTION) dilakukan secara step by step, perlahan
tapi pasti, insya Allah dengan ke-YAKIN-an di hati akan ridho-Nya dan diperkuat
dengan senjata DO’A, maka perubahan yang kita harapkan pun akan membuahkan hasil
dan kesuksesan pun akan diraih. Inilah 5
(lima) hal yang dapat kita lakukan sebagai sebuah proses kesuksesan.
Sebuah
perubahan baik dalam skala besar ataupun kecil tidak akan terjadi tanpa diawali dari
diri sendiri (ibda’ binafsishi). Ini adalah ayat Allah, karena Allah tidak akan mengubah keadaan seseorang
atau suatu kaum kecuali seseorang atau kaum itu sendiri yang merubahnya. Hal ini sebagaimana Allah firmankan dalam surat Ar-Ra’du ayat 11,
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا
بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَه وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِه مِنْ وَّالٍ
“Sesungguhnya
Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan
diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu
kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka
selain Dia”.
Semoga dengan hadirnya bulan Muharam ini mampu
memantik dan mengilhami jiwa kita untuk terus
mengobarkan semangat berhijrah yang kita realisasikan dalam keseharian kita
sebagai bentuk manifestasi keimanan kita kepada Allah SWT. Maka insya Allah
harapan kita untuk meraih sukses dan meraih predikat ‘manusia terbaik’ yang
dinyatakan Rasulullah SAW yakni “manusia yang panjang umurnya dan makmur
jiwanya” akan terwujud. Aamiin..
Wallohua’lam Bishowab...
Komentar
Posting Komentar